Harga perak kembali melemah ke sekitar US$85 per ons pada perdagangan Selasa (12/5), setelah sebelumnya sempat menguat di awal sesi. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta gangguan distribusi energi di Selat Hormuz yang masih menjaga harga minyak dunia berada pada level tinggi.
Pasar saat ini menaruh perhatian besar terhadap perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyebut kondisi gencatan senjata berada dalam situasi βmassive life supportβ setelah menolak proposal perdamaian terbaru dari Teheran. Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz masih akan terganggu dalam waktu yang lebih lama.
Ikuti update market terbaru, analisa harian, dan edukasi trading melalui Instagram resmi kami di
Equityworld Praxis Official Instagram
Gangguan distribusi energi global membuat harga minyak tetap tinggi dan memicu kembali kekhawatiran inflasi dunia. Kondisi ini menjadi perhatian utama investor karena berpotensi memengaruhi kebijakan suku bunga Federal Reserve. Pelaku pasar kini menunggu rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat guna melihat seberapa besar dampak konflik geopolitik terhadap tekanan harga secara keseluruhan.
Data inflasi tersebut dinilai penting karena akan memengaruhi arah suku bunga AS dan pergerakan dolar Amerika Serikat, dua faktor utama yang sangat memengaruhi harga logam mulia seperti perak. Jika inflasi kembali meningkat, pasar khawatir The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama sehingga dapat membatasi ruang penguatan logam mulia.
Pelajari lebih lanjut mengenai layanan investasi dan produk trading bersama
PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya
Anda juga dapat mencoba simulasi trading melalui akun demo gratis di
Demo Trading Equityworld Futures
Sebelumnya, harga perak sempat melonjak lebih dari 7% dan mencapai level tertinggi dalam sekitar dua bulan. Penguatan tersebut didorong oleh karakter perak yang tidak hanya dipandang sebagai aset safe haven, tetapi juga memiliki permintaan industri yang cukup besar. Meningkatnya optimisme terhadap permintaan fisik industri sempat memperkuat reli sebelum akhirnya pasar melakukan aksi ambil untung pada perdagangan terbaru.
Kombinasi ketidakpastian geopolitik, arah kebijakan moneter AS, dan fluktuasi harga energi diperkirakan akan menjaga volatilitas pasar perak tetap tinggi dalam jangka pendek. Selama tekanan inflasi dan konflik global masih membayangi pasar, pergerakan logam mulia diperkirakan akan tetap sensitif terhadap setiap perkembangan ekonomi maupun geopolitik.
Ikuti juga perkembangan berita ekonomi dan finansial terbaru melalui
Newsmaker Indonesia
serta akses seluruh media sosial perusahaan melalui
Linktree EWF Praxis
