Harga minyak dunia ditutup melonjak hampir tiga persen pada perdagangan Senin (11/5) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi “on life support.” Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran baru di pasar bahwa konflik geopolitik belum akan segera berakhir dan distribusi energi global masih menghadapi risiko besar.
Minyak Brent tercatat ditutup naik 2,88% ke level US$104,21 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,78% menjadi US$98,07 per barel. Selama sesi perdagangan, Brent bahkan sempat menyentuh level tertinggi di US$105,99 dan WTI menembus US$100,37 sebelum akhirnya bergerak stabil menjelang penutupan pasar.
Ikuti update market harian, analisa teknikal, dan berita ekonomi terbaru melalui Instagram resmi kami di
Equityworld Praxis Official Instagram
Kenaikan harga minyak ini sekaligus membalikkan pelemahan tajam pada pekan sebelumnya, ketika pasar sempat optimistis terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran. Namun sentimen berubah cepat setelah Trump menolak proposal terbaru dari Iran dan menyebut respons tersebut sebagai sesuatu yang “stupid” dan “totally unacceptable.” Iran sendiri menuntut penghentian perang di berbagai kawasan serta meminta pencabutan sanksi dan jaminan tidak adanya serangan lanjutan dari Amerika Serikat.
Ketegangan tersebut membuat Selat Hormuz masih belum kembali normal. Jalur strategis yang menjadi pusat pengiriman minyak dunia itu disebut tetap tertutup sehingga memperbesar kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global. CEO Saudi Aramco bahkan menyebut dunia telah kehilangan sekitar satu miliar barel pasokan minyak dalam dua bulan terakhir, dan pasar diperkirakan membutuhkan waktu panjang untuk kembali stabil meskipun distribusi energi nantinya pulih.
Pelajari lebih lanjut mengenai layanan investasi dan produk trading bersama
PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya
Anda juga dapat mencoba simulasi trading melalui akun demo gratis di
Demo Trading Equityworld Futures
Selain gangguan pasokan, data Reuters menunjukkan produksi OPEC turun ke level terendah dalam lebih dari dua dekade pada April akibat terganggunya ekspor minyak selama konflik berlangsung. Di saat yang sama, ekspor minyak Arab Saudi ke China juga diperkirakan kembali menurun pada Juni karena harga yang lebih tinggi dan pasokan yang semakin terbatas.
Pasar kini menaruh perhatian besar pada kunjungan Donald Trump ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping. Isu Iran disebut menjadi salah satu agenda utama pembahasan kedua pemimpin tersebut. Investor berharap China dapat membantu mendorong proses diplomasi guna meredakan ketegangan di Timur Tengah dan memulihkan stabilitas pasar energi global.
Analis JPMorgan memperkirakan harga minyak berpotensi tetap bertahan di kisaran rendah US$100 per barel hingga akhir tahun. Dengan kondisi geopolitik yang masih penuh ketidakpastian, pasar energi diperkirakan akan tetap bergerak volatil di tengah tarik-menarik antara harapan diplomasi dan risiko eskalasi konflik yang sewaktu-waktu dapat kembali mengganggu pasokan global.
Ikuti juga perkembangan berita ekonomi dan finansial terbaru melalui
Newsmaker Indonesia
serta akses seluruh media sosial perusahaan melalui
Linktree EWF Praxis
