0 0
Read Time:2 Minute, 12 Second

Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Rabu setelah reli selama tiga hari terakhir mulai mereda. Pelaku pasar memilih menunggu perkembangan terbaru terkait gencatan senjata yang masih rapuh di Timur Tengah serta hasil pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.

Minyak Brent tercatat turun 19 sen atau sekitar 0,2% ke level US$107,58 per barel pada pukul 09.09 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melemah 39 sen atau 0,4% menjadi US$101,79 per barel. Meski mengalami koreksi, kedua acuan minyak tersebut masih bertahan di sekitar level US$100 per barel sejak pecahnya konflik AS–Israel dengan Iran pada akhir Februari lalu.

Ikuti update market terbaru, analisa harian, dan berita ekonomi global melalui Instagram resmi kami di
Equityworld Praxis Official Instagram

Pasar energi global masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait kondisi Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dan LNG dunia. Penutupan efektif jalur tersebut oleh Iran membuat investor khawatir terhadap gangguan pasokan global, sehingga setiap perkembangan diplomatik maupun ancaman baru langsung memicu volatilitas harga minyak.

Tekanan penurunan harga minyak juga tertahan setelah International Energy Agency (IEA) menyatakan pasokan minyak global tahun ini diperkirakan belum mampu memenuhi total permintaan akibat gangguan produksi di Timur Tengah. Selain itu, IEA juga menyoroti penurunan produksi minyak Rusia sekitar 460 ribu barel per hari pada April dibanding tahun sebelumnya, di tengah meningkatnya serangan drone Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia.

Pelajari lebih lanjut mengenai layanan investasi dan produk trading bersama
PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya
Anda juga dapat mencoba simulasi trading melalui akun demo gratis di
Demo Trading Equityworld Futures

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak lebih dari 3% setelah harapan terhadap gencatan senjata permanen antara AS dan Iran mulai memudar. Ketidakpastian terkait pembukaan kembali Selat Hormuz membuat pasar tetap waspada mengingat jalur tersebut normalnya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG global. Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping pun menjadi perhatian utama pasar karena China diketahui masih menjadi pembeli terbesar minyak Iran di tengah tekanan sanksi dari Washington.

Dari sisi ekonomi, lonjakan inflasi AS pada April juga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini berpotensi menekan permintaan minyak global karena biaya pinjaman yang lebih mahal dapat memperlambat aktivitas ekonomi dan konsumsi energi.

Pelaku pasar juga menunggu data resmi persediaan minyak mentah AS yang dijadwalkan dirilis pemerintah pada Rabu. Sebelumnya, laporan dari API menunjukkan stok minyak mentah AS turun untuk minggu keempat berturut-turut, yang dapat menjadi sinyal bahwa pasar energi masih berada dalam kondisi pasokan ketat.

Ikuti juga perkembangan berita ekonomi dan finansial terbaru melalui
Newsmaker Indonesia
serta akses seluruh media sosial perusahaan melalui
Linktree EWF Praxis

About Post Author

IT Sby Praxis

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *