Harga minyak dunia kembali bergerak naik pada perdagangan Jumat (15/5) setelah pernyataan terbaru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi memperkecil harapan pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat. Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali fokus pada risiko gangguan pasokan energi global.
Minyak mentah Brent tercatat naik 2,4% ke level US$108,22 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 2,4% menjadi US$104,03 per barel. Secara mingguan, Brent telah mencatat kenaikan sekitar 6,8%, sedangkan WTI melonjak hingga 9,0%. Kenaikan tersebut mencerminkan tingginya kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.
Ikuti update market global, analisa harian, dan berita ekonomi terbaru melalui Instagram resmi kami di
Equityworld Praxis Official Instagram
Ketidakpastian utama masih berpusat pada kondisi Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi internasional. Pernyataan Trump yang menyebut kesabarannya terhadap Iran mulai habis memperlihatkan meningkatnya tensi politik antara kedua negara. Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa mereka belum mempercayai Amerika Serikat dan hanya akan membuka ruang negosiasi apabila Washington menunjukkan keseriusan untuk mencapai solusi diplomatik.
Pasar juga menyoroti hasil pertemuan antara Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang belum memberikan kepastian mengenai pemulihan aktivitas penuh di Selat Hormuz. Trump menyatakan bahwa kedua pihak sepakat Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan jalur perdagangan energi tersebut harus kembali dibuka. Namun hingga saat ini, belum ada sinyal konkret bahwa kondisi di kawasan tersebut akan segera normal kembali.
Pelajari lebih lanjut mengenai layanan investasi dan produk trading bersama
PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya
Anda juga dapat mencoba fitur trading melalui akun demo gratis di
Demo Trading Equityworld Futures
Secara keseluruhan, penguatan harga minyak saat ini dinilai lebih dipengaruhi oleh sentimen geopolitik dibanding perubahan besar pada pasokan fisik minyak global. Meski Iran menyebut sekitar 30 kapal telah melintasi Selat Hormuz, jumlah tersebut masih jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik yang mencapai sekitar 140 kapal per hari. Selama negosiasi AS-Iran masih mengalami kebuntuan dan gangguan di jalur energi belum sepenuhnya pulih, harga minyak diperkirakan tetap berada dalam tekanan bullish.
Kenaikan harga energi juga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan potensi bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Situasi ini dapat berdampak pada biaya produksi, sektor industri, hingga pergerakan pasar keuangan global dalam beberapa waktu ke depan.
Ikuti juga perkembangan berita ekonomi dan finansial terbaru melalui
Newsmaker Indonesia
dan akses seluruh sosial media perusahaan melalui
Linktree EWF Praxis
