Harga perak kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat (15/05) setelah pasar semakin yakin bahwa suku bunga Amerika Serikat berpotensi bertahan tinggi lebih lama. Perak tercatat turun sekitar 6% ke level US$79 per ounce, sekaligus memperpanjang pelemahan untuk sesi kedua berturut-turut di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi global.
Tekanan terhadap logam mulia dipicu oleh data ekonomi AS yang menunjukkan tekanan inflasi dari sisi produsen semakin meningkat. Laporan terbaru memperlihatkan harga produsen serta harga impor dan ekspor mencatat kenaikan tercepat sejak 2022. Selain itu, inflasi tahunan juga disebut menyentuh level tertinggi sejak 2023 akibat dampak perang Iran yang berkepanjangan dan gangguan distribusi energi global setelah penutupan Selat Hormuz.
Dapatkan update market terkini, edukasi trading, dan analisa harian melalui Instagram resmi kami di
Equityworld Praxis Official Instagram
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mulai mengubah ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve. Jika sebelumnya pasar masih berharap adanya pemangkasan suku bunga tahun ini, kini skenario tersebut mulai ditinggalkan. Bahkan sebagian investor mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada akhir tahun semakin terbuka. Situasi ini membuat aset berbunga seperti obligasi menjadi lebih menarik dibanding logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Selain faktor suku bunga, tekanan juga datang dari sisi fundamental pasar perak. UBS memangkas proyeksi permintaan investasi perak global menjadi sekitar 300 juta ounce dari sebelumnya di atas 400 juta ounce. Pelemahan permintaan industri serta meningkatnya pasokan tambang dinilai menjadi faktor utama yang mengurangi optimisme pasar terhadap prospek perak dalam jangka pendek.
Pelajari lebih lanjut mengenai layanan dan produk investasi bersama
PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya
Anda juga bisa mencoba pengalaman trading melalui akun demo gratis di
Demo Trading Equityworld Futures
UBS juga memperkirakan defisit pasokan perak akan menyusut tajam menjadi sekitar 60–70 juta ounce, jauh lebih kecil dibanding estimasi sebelumnya yang mencapai sekitar 300 juta ounce. Proyeksi tersebut memperkuat pandangan bahwa kondisi pasar perak saat ini tidak seketat perkiraan sebelumnya, sehingga tekanan harga masih berpotensi berlanjut apabila sentimen suku bunga tinggi dan penguatan dolar AS terus mendominasi pasar.
Ikuti juga berita ekonomi dan perkembangan pasar global terbaru melalui
Newsmaker Indonesia
dan akses seluruh media sosial perusahaan melalui
Linktree EWF Praxis
