Harga emas bertahan relatif stabil setelah mengalami pelemahan tajam pada pekan lalu, di tengah belum adanya perkembangan signifikan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Logam mulia diperdagangkan di sekitar US$4.516 per ons setelah sebelumnya mencatat penurunan hampir 4% dalam sepekan terakhir.
Pasar masih dibayangi kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini belum menemukan titik terang. Konflik yang berkepanjangan membuat Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi global, masih efektif tertutup dan terus menjaga premi risiko pada harga energi dunia. Situasi tersebut membuat sentimen investor tetap defensif di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Pantau update market terbaru, analisa harian, dan berita ekonomi global melalui Instagram resmi kami di
Equityworld Praxis Official Instagram
Kenaikan harga minyak pada awal pekan turut meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi global dapat bertahan lebih lama. Jika inflasi kembali meningkat, pasar menilai peluang bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi bahkan menaikkan suku bunga kembali akan semakin besar. Kondisi tersebut biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga lainnya.
Meski demikian, sejak sempat anjlok pada fase awal konflik, harga emas kini bergerak dalam rentang yang relatif sempit. Investor masih mempertimbangkan dua risiko besar yang saling bertolak belakang, yakni ancaman inflasi tinggi yang mendukung kebijakan moneter ketat dan risiko perlambatan ekonomi global yang pada akhirnya dapat memicu pelonggaran suku bunga apabila konflik berlangsung terlalu lama.
Pelajari lebih lanjut mengenai layanan investasi dan produk trading bersama
PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya
Anda juga dapat mencoba simulasi trading melalui akun demo gratis di
Demo Trading Equityworld Futures
Ketegangan geopolitik juga tetap tinggi setelah laporan serangan drone pada Minggu memicu kebakaran di sebuah pembangkit nuklir di Uni Emirat Arab. Insiden tersebut memperlihatkan rapuhnya kondisi gencatan senjata di Timur Tengah dan berpotensi menjaga volatilitas tinggi di pasar minyak, obligasi, maupun aset safe haven seperti emas.
Di pasar obligasi global, aksi jual mendorong kenaikan yield seiring kekhawatiran bahwa inflasi akibat perang dapat memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Kenaikan yield ini membuat sebagian investor mengurangi posisi di emas karena daya tariknya relatif menurun dibanding aset berbunga. Namun, sebagian pelaku pasar masih melihat peluang bank sentral kembali dovish apabila pertumbuhan ekonomi mulai melemah akibat konflik berkepanjangan.
Fokus investor selanjutnya tertuju pada risalah rapat Federal Reserve yang diharapkan memberi petunjuk arah kebijakan suku bunga berikutnya. Selain itu, pasar juga memantau dinamika permintaan fisik emas dari Asia, di mana permintaan India dilaporkan melemah akibat aturan impor yang lebih ketat, sementara permintaan dari China diperkirakan masih mampu menopang pasar logam mulia global.
Ikuti juga perkembangan berita ekonomi dan finansial terbaru melalui
Newsmaker Indonesia
serta akses seluruh media sosial perusahaan melalui
Linktree EWF Praxis
