Harga perak kembali melemah pada sesi perdagangan Eropa Selasa (19/5), membalikkan penguatan yang sempat terjadi sehari sebelumnya. Pada sekitar pukul 10:38 waktu London, harga perak spot tercatat berada di level US$75,47 per ons atau turun sekitar 2,69%, seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global.
Pelemahan harga perak terjadi karena pasar kembali bersikap defensif setelah belum adanya kemajuan yang jelas dalam jalur diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun beberapa kali muncul wacana negosiasi, pelaku pasar masih melihat risiko eskalasi konflik tetap tinggi sehingga volatilitas pasar global masih berpotensi berlanjut.
Ikuti update market terbaru, analisa harian, dan berita ekonomi global melalui Instagram resmi kami di
Equityworld Praxis Official Instagram
Dari sisi makroekonomi, tekanan terhadap logam mulia juga datang dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Yield obligasi tenor 10 tahun AS tercatat masih berada di sekitar 4,617%, mencerminkan ekspektasi pasar bahwa suku bunga tinggi kemungkinan akan bertahan lebih lama. Kondisi ini membuat aset non-yielding seperti perak menjadi kurang menarik dibanding instrumen berbunga.
Selain itu, dolar AS yang tetap kuat turut menambah tekanan terhadap harga logam mulia. Dollar Index berada di sekitar level 99,217 pada saat yang sama, membuat komoditas berbasis dolar menjadi lebih mahal bagi investor global. Penguatan dolar biasanya menjadi faktor yang membatasi ruang kenaikan harga emas maupun perak.
Pelajari lebih lanjut mengenai layanan investasi dan produk trading bersama
PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya
Anda juga dapat mencoba simulasi trading melalui akun demo gratis di
Demo Trading Equityworld Futures
Di sisi lain, harga energi yang masih tinggi tetap menjadi faktor yang menjaga kekhawatiran inflasi global. Meski telah terkoreksi dari level tertingginya, harga minyak Brent masih berada di sekitar US$110,55 per barel dan WTI di kisaran US$103,56 per barel. Level tersebut masih tergolong tinggi secara historis dan membuat pasar tetap sensitif terhadap perkembangan situasi di Selat Hormuz.
Pelaku pasar kini menantikan katalis baru dari Amerika Serikat, terutama rilis risalah rapat Federal Reserve (FOMC Minutes) dan data flash PMI. Kedua data tersebut diperkirakan akan menjadi petunjuk penting untuk melihat seberapa kuat narasi βhigher for longerβ atau suku bunga tinggi bertahan lebih lama masih mendominasi pasar. Selama yield obligasi belum menunjukkan penurunan signifikan dan ketidakpastian geopolitik belum mereda, ruang pemulihan harga perak diperkirakan masih terbatas dalam jangka pendek.
Ikuti juga perkembangan berita ekonomi dan finansial terbaru melalui
Newsmaker Indonesia
serta akses seluruh media sosial perusahaan melalui
Linktree EWF Praxis
