0 0
Read Time:2 Minute, 12 Second

Harga minyak dunia kembali melanjutkan penguatannya pada perdagangan Senin (18/5) setelah prospek perdamaian di Timur Tengah semakin memburuk menyusul serangan terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah di Uni Emirat Arab. Peristiwa tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan.

Kontrak minyak Brent tercatat naik 57 sen atau sekitar 0,52% menjadi US$109,83 per barel pada pukul 08:08 GMT, setelah sempat menyentuh level US$112 per barel yang menjadi posisi tertinggi sejak 5 Mei. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 79 sen atau 0,75% ke level US$106,21 per barel setelah sebelumnya mencapai US$108,70, tertinggi sejak 30 April.

Ikuti update market terbaru, analisa harian, dan berita ekonomi global melalui Instagram resmi kami di
Equityworld Praxis Official Instagram

Kenaikan harga minyak ini terjadi setelah kedua acuan utama tersebut telah menguat lebih dari 7% sepanjang pekan lalu. Harapan pasar terhadap tercapainya kesepakatan damai untuk menghentikan serangan dan gangguan kapal di sekitar Selat Hormuz mulai memudar. Selain itu, pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping pekan lalu juga belum memberikan sinyal bahwa China akan membantu meredakan konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

Di kawasan Timur Tengah, Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat tiga drone yang masuk dari wilayah udara Irak dan menegaskan siap mengambil langkah operasional guna menjaga kedaulatan negaranya. Sementara itu, Uni Emirat Arab menyatakan masih menyelidiki sumber serangan terhadap fasilitas nuklir Barakah dan menegaskan memiliki hak untuk merespons apa yang mereka sebut sebagai aksi terorisme.

Pelajari lebih lanjut mengenai layanan investasi dan produk trading bersama
PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya
Anda juga dapat mencoba simulasi trading melalui akun demo gratis di
Demo Trading Equityworld Futures

Dari Amerika Serikat, laporan Axios menyebut Presiden Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan penasihat keamanan nasional untuk membahas opsi aksi militer terkait perkembangan konflik di Timur Tengah. Di saat yang sama, pemerintahan AS juga membiarkan berakhirnya pengecualian sanksi yang sebelumnya memungkinkan sejumlah negara, termasuk India, membeli minyak Rusia melalui jalur laut. Kebijakan tersebut dinilai menambah ketidakpastian terhadap pasokan energi global.

Kombinasi risiko geopolitik, ancaman gangguan distribusi energi, dan ketidakpastian kebijakan sanksi diperkirakan akan menjaga volatilitas harga minyak tetap tinggi dalam waktu dekat. Harga energi yang bertahan tinggi juga meningkatkan risiko inflasi global dan dapat mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama untuk menekan tekanan harga.

Investor kini terus memantau perkembangan konflik Timur Tengah serta langkah diplomasi internasional yang dapat memengaruhi stabilitas pasar energi global. Selama ketidakpastian geopolitik masih berlangsung dan distribusi energi belum sepenuhnya normal, harga minyak diperkirakan tetap bergerak sensitif terhadap setiap perkembangan baru.

Ikuti juga perkembangan berita ekonomi dan finansial terbaru melalui
Newsmaker Indonesia
serta akses seluruh media sosial perusahaan melalui
Linktree EWF Praxis

About Post Author

IT Sby Praxis

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *