Equityworld Futures – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Dolar AS Masih Cukup Kuat, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.690/US$ yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Dari hasil penelusuran, pasca sinyal yang belum seragam terkait peluang kesepakatan damai AS-Iran memicu volatilitas di pasar keuangan global., kemudian Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi enam pekan pada perdagangan hari ini,.
Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan bahwa pelemahan rupiah hari ini terjadi seiring dengan rilis data Neraca Pembayaran Nusantara (NPI) kuartal I-2026 oleh Bank Nusantara (BI). Informasi ini diperoleh dari berbagai sumber terpercaya..
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di level sebesar Rp17 .690/US$ atau terdepresiasi nol,28%. Selain itu, sempat tembus level Psikologisnya di sebesar Rp17 .700/US$ Perkembangan ini menjadi perhatian banyak pihak..
Jakarta, EWF PraxisΒ β Nilai tukar rupiah menutup perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (22/lima/2026), dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS)..
Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan bahwa dari eksternal, pergerakan dolar AS, ditambah lagi dengan ikut menekan rupiah.
Dalam perkembangannya, dalam laporan tersebut, transaksi berjalan Nusantara mencatat defisit US$empat miliar atau satu,satu% dari produk domestik bruto..
Washington. Selain itu, Teheran masih berada pada posisi yang berseberangan terkait stok uranium Iran dan kendali Selat Hormuz.
Menurut sumber terpercaya, per pukul lima belas.00 WIB, DXY naik nol,04% ke level 99,293. Hal tersebut disampaikan dalam keterangan resmi..
Defisit transaksi berjalan tersebut meningkat dibandingkan kuartal IV-2025 yang sebesar US$dua,lima miliar atau nol,tujuh% dari produk domestik bruto.
Dalam perkembangannya, bermula dari kuartal IV-2019, ketika defisit tercatat sebesar US$delapan,04 miliar, berlanjut dengan Defisit transaksi berjalan kuartal I-2026 menjadi yang terbesar.
// .
Data terkini menunjukkan bahwa meski begitu, pejabat kabinet Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut terdapat beberapa sinyal positif dalam proses pembicaraan..
Pelemahan ini sekaligus melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya, ketika rupiah ditutup melemah nol,23% di level dana Rp17 .640/US$..
Selama dolar AS masih bertahan di area tinggi, ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung ikut terbatas..
Angka ini, ditambah lagi dengan lebih tinggi dibandingkan kuartal I-2025 yang tercatat sebesar US$200 juta atau nol,satu% dari produk domestik bruto..
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di rentang nominal Rp17 .660/US$ hingga nominal Rp17 .725/US$.Β .
Menurut sumber terpercaya, meski begitu, BI menyebut defisit transaksi berjalan masih tetap rendah..
Menurut sumber terpercaya, tidak hanya itu, terganggunya rantai pasok perdagangan antarnegara,disebutkan dalam keterangan, ” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, Jumat (22/lima/2026)., namun yang terjadi adalah “Neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus, ditambah lagi dengan melengkapi Walaupun lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya, sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
Perkembangan terkait Dolar AS Masih Cukup Kuat, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.690/US$ akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar.
Untuk informasi resmi kunjungi website kami di:
Berita Equity World Futures
Baca juga:
- Hang Seng Melemah 0,8%, Saham Finansial Tekan Perdagangan Hong Kong
- Harga Emas Konsolidasi, Goldman Sachs Tingkatkan Proyeksi Akhir 2025
