Harga minyak dunia ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis (28/5) setelah pasar melewati sesi yang penuh volatilitas. Pelaku pasar terus mencermati perkembangan terbaru terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang masih diwarnai laporan berbeda mengenai kemajuan perpanjangan gencatan senjata. Ketidakpastian tersebut membuat pergerakan harga minyak sangat sensitif terhadap setiap informasi baru yang muncul dari kawasan Timur Tengah.
Minyak Brent kontrak Juli ditutup melemah 0,6% ke level US$93,71 per barel. Sementara itu, kontrak Brent Agustus yang lebih aktif justru bergerak menguat pada akhir sesi. Di sisi lain, minyak West Texas Intermediate (WTI) berhasil mencatat kenaikan tipis sebesar 0,3% dan ditutup di level US$88,90 per barel. Pergerakan yang berbeda ini mencerminkan kondisi pasar yang masih mencari arah di tengah dinamika geopolitik dan pasokan energi global.
Bagi Anda yang ingin mengikuti perkembangan pasar energi, komoditas, dan peluang investasi terkini, kunjungi website PT Equityworld Futures Praxis Surabaya di https://www.equityworld-futures.com/index.php/id/broker/surabaya-praxis. Berbagai informasi edukasi dan update pasar juga dapat diakses melalui media sosial resmi perusahaan di https://linktr.ee/ewfprx.
Sentimen pasar sempat menguat setelah muncul laporan yang menyebut adanya kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, optimisme tersebut tertahan karena sejumlah sumber menyatakan bahwa kesepakatan masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden Donald Trump. Di saat yang sama, media Iran juga melaporkan bahwa nota kesepahaman yang menjadi dasar perjanjian tersebut belum sepenuhnya final, sehingga menimbulkan keraguan di kalangan investor.
Pada awal perdagangan, harga minyak sempat melonjak lebih dari 2% setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menargetkan pangkalan udara Amerika Serikat sebagai respons atas serangan yang terjadi di Bandar Abbas. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama karena perhatian pasar kembali beralih pada isu yang lebih penting, yakni kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi faktor utama dalam menentukan premi risiko pasokan minyak global.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati data persediaan minyak Amerika Serikat. Laporan terbaru menunjukkan stok minyak mentah AS turun sebesar 3,3 juta barel dalam sepekan terakhir, menandai penurunan selama enam minggu berturut-turut. Meski demikian, angka tersebut masih berada di bawah ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan lebih besar. Persediaan bensin dan bahan bakar distilat juga tercatat mengalami penurunan, menunjukkan permintaan energi yang tetap cukup solid.
Ke depan, pergerakan harga minyak diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi AS-Iran dan status operasional Selat Hormuz. Selama belum ada kepastian mengenai implementasi kesepakatan dan normalisasi jalur pelayaran energi, volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi. Untuk mencoba simulasi trading tanpa risiko menggunakan dana virtual, Anda dapat mengakses akun demo melalui https://demo.ew-futures.com/login. Jangan lupa mengikuti update pasar harian melalui Instagram resmi https://www.instagram.com/equityworld_praxis.official serta membaca berita ekonomi dan investasi terbaru di https://www.newsmaker.id.
