Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Kamis setelah mencatat reli selama tiga sesi berturut-turut. Koreksi ini terjadi menyusul kesepakatan gencatan senjata bersyarat antara Israel dan Lebanon, yang akan berlaku apabila Hezbollah turut menghentikan serangan. Sentimen tersebut memberikan harapan baru bagi upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun pelaku pasar masih meragukan implementasinya dalam waktu dekat. Brent turun mendekati US$97 per barel, sementara WTI bertahan di sekitar US$95 per barel setelah sebelumnya melonjak hampir 10% sepanjang pekan ini.
Meski ketegangan sedikit mereda, pasar energi masih dibayangi ketidakpastian tinggi terkait negosiasi Washington dan Teheran. Kedua negara disebut telah memiliki kerangka awal untuk memperpanjang gencatan senjata selama dua bulan sekaligus membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz. Namun hingga kini, pembahasan detail masih berlangsung dan sejumlah bentrokan sporadis tetap terjadi, membuat investor enggan menghilangkan premi risiko dari harga minyak.
Ikuti berbagai informasi terkini mengenai pasar global, investasi, dan pergerakan komoditas melalui media sosial resmi perusahaan di https://linktr.ee/ewfprx atau dapatkan update harian melalui Instagram resmi di https://www.instagram.com/equityworld_praxis.official.
Perhatian utama pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa jalur tersebut dapat dibuka kembali segera setelah Iran menandatangani nota kesepahaman penghentian konflik. Namun selama aktivitas pelayaran masih terganggu dan proses normalisasi belum berjalan penuh, kekhawatiran terhadap pasokan minyak global diperkirakan tetap bertahan.
Kondisi ini semakin diperkuat oleh menipisnya cadangan minyak di Amerika Serikat. Data pemerintah menunjukkan persediaan di Cushing, Oklahoma, yang merupakan titik serah utama kontrak WTI, terus mengalami penurunan selama enam pekan berturut-turut. Dengan cadangan yang semakin terbatas, pasar menjadi lebih rentan terhadap lonjakan harga apabila gangguan distribusi dari Timur Tengah berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Sejumlah analis bahkan memperingatkan bahwa risiko kenaikan harga masih cukup besar. Westpac memperkirakan harga Brent berpotensi menembus US$130 per barel pada kuartal IV apabila Selat Hormuz belum sepenuhnya beroperasi normal dan persediaan global terus menyusut. Dengan kata lain, meskipun harga saat ini mengalami koreksi, struktur risiko pasar masih cenderung mendukung potensi kenaikan dalam jangka menengah.
Untuk mengenal lebih jauh layanan dan profil perusahaan, kunjungi https://www.equityworld-futures.com/index.php/id/broker/surabaya-praxis. Bagi yang ingin mencoba simulasi transaksi tanpa risiko, akun demo trading tersedia di https://demo.ew-futures.com/login. Sementara berbagai berita ekonomi dan pasar terbaru dapat diakses melalui https://www.newsmaker.id.
Pada perdagangan Asia pukul 08:13 waktu Singapura, kontrak Brent Agustus tercatat turun 0,7% ke level US$97,13 per barel. Sementara itu, minyak mentah WTI untuk pengiriman Juli juga melemah 0,7% dan diperdagangkan di sekitar US$95,38 per barel.
