Harga emas mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Rabu (10/6), seiring menguatnya dolar Amerika Serikat dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Logam mulia ini semakin tertekan setelah pasar menilai eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi mempertahankan tekanan inflasi global, sehingga memperbesar peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Bagi Anda yang ingin mengikuti perkembangan pasar keuangan, analisis komoditas, dan edukasi investasi terkini, kunjungi media sosial resmi PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya melalui https://linktr.ee/ewfprx atau ikuti Instagram resmi di https://www.instagram.com/equityworld_praxis.official untuk memperoleh update pasar setiap harinya.
Pada perdagangan terbaru, harga emas spot turun sekitar 4,4% ke level US$4.071,40 per ons, sementara kontrak emas berjangka melemah 4,5% menjadi US$4.095,00 per ons. Pelemahan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar setelah militer Amerika Serikat melancarkan operasi yang disebut sebagai tindakan pertahanan terhadap Iran. Pernyataan Presiden Donald Trump yang menegaskan kesiapan Washington untuk mengambil langkah militer lebih lanjut turut memperburuk sentimen investor.
Berbeda dengan kondisi geopolitik sebelumnya yang sering mendorong permintaan aset safe haven, kali ini perhatian pasar lebih tertuju pada dampak konflik terhadap harga energi global. Potensi gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz dinilai dapat mempertahankan tekanan inflasi dalam jangka panjang. Jika harga energi terus meningkat, Federal Reserve diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga, sehingga menjadi faktor negatif bagi pergerakan harga emas.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai layanan dan produk investasi dari PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya, silakan kunjungi https://www.equityworld-futures.com/index.php/id/broker/surabaya-praxis. Anda juga dapat mencoba simulasi transaksi melalui akun demo di https://demo.ew-futures.com/login untuk mempelajari fitur perdagangan berjangka sebelum bertransaksi di pasar yang sesungguhnya.
Sementara itu, data inflasi Amerika Serikat menunjukkan bahwa kenaikan harga konsumen masih didominasi oleh sektor energi, yang memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi berkepanjangan. Kombinasi penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, dan ketidakpastian arah kebijakan moneter membuat emas masih berada dalam fase defensif. Pelaku pasar kini akan terus mencermati perkembangan konflik AS–Iran, kondisi Selat Hormuz, pergerakan harga energi, serta sinyal terbaru dari Federal Reserve. Untuk memperoleh berita ekonomi dan analisis pasar lainnya, kunjungi https://www.newsmaker.id.
