
Harga emas berhasil rebound pada perdagangan Kamis (9/7) setelah mengalami tekanan selama tiga sesi berturut-turut. Pelemahan dolar Amerika Serikat serta penurunan imbal hasil Treasury AS memberikan ruang bagi logam mulia untuk kembali menguat.
Harga emas spot (XAU/USD) bergerak di sekitar US$4.122 per troy ounce, naik sekitar 1% secara harian. Namun, penguatan tersebut masih menghadapi tantangan karena pasar tetap mencermati risiko inflasi dan kemungkinan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Perkembangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian investor. Amerika Serikat dan Iran dilaporkan terlibat dalam aksi saling serang pada Rabu malam, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas.
Presiden AS Donald Trump menyebut tindakan terbaru tersebut sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal. Ia juga memperingatkan bahwa situasi dapat semakin memburuk apabila serangan kembali terjadi.
Di sisi lain, Iran kembali memberikan ancaman untuk menutup Selat Hormuz jika konflik berlanjut. Ancaman tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global karena jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan minyak paling strategis di dunia.
Meski ketegangan geopolitik biasanya memberikan dukungan bagi emas sebagai aset lindung nilai, kenaikan harga energi justru dapat menciptakan tekanan baru. Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi mendorong inflasi dan membuat Federal Reserve mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Dolar AS juga masih menunjukkan ketahanan. Indeks dolar bergerak di sekitar level 100,97 setelah sebelumnya sempat menyentuh posisi intraday 100,79. Kondisi ini menunjukkan tekanan dari mata uang AS terhadap emas belum sepenuhnya mereda.
Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat masih menjadi faktor penghambat bagi emas. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September berada di kisaran 63%.
Suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, sementara instrumen berbasis bunga seperti obligasi menjadi lebih menarik bagi investor.
Analis OCBC Bank menilai ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor pendukung bagi emas, tetapi dampaknya kali ini lebih banyak terlihat melalui jalur harga minyak, risiko inflasi, dan prospek kebijakan suku bunga.
Dengan kondisi tersebut, penguatan emas masih berpotensi menghadapi hambatan. Stabilitas harga minyak serta perkembangan kebijakan The Fed akan menjadi faktor utama yang menentukan apakah reli emas dapat berlanjut atau kembali mengalami tekanan.
Risalah rapat Federal Reserve pada 16–17 Juni menunjukkan para pejabat bank sentral masih memiliki pandangan berbeda mengenai arah suku bunga. Sebagian pejabat tetap membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi kembali meningkat.
Saat ini, emas berada dalam posisi yang sensitif terhadap dua kekuatan berlawanan. Pelemahan dolar dan yield memberikan dukungan dalam jangka pendek, sementara risiko inflasi energi dan sikap hawkish The Fed masih menjadi tantangan utama bagi pergerakan berikutnya.
