0 0
Read Time:1 Minute, 48 Second

Harga minyak kembali bertahan di level tinggi setelah mencatat kenaikan harian terbesar dalam lebih dari dua pekan. Brent bergerak mendekati US$90 per barel setelah melonjak hampir 8% pada sesi sebelumnya, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di bawah US$84 per barel. Penguatan tersebut menunjukkan pasar kembali meningkatkan premi risiko di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah.

Sentimen minyak menguat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran. Trump menyatakan Iran akan menghadapi pukulan keras menyusul serangan terhadap pasukan Amerika Serikat di Yordania. Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat kembali mengalami eskalasi dan mengganggu stabilitas pasokan energi global.

Untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai perkembangan harga minyak, emas, dan pasar komoditas lainnya, Anda dapat mengikuti berita terkini melalui Newsmaker.id.

Konflik AS-Iran juga dinilai masih berpotensi berlangsung lebih lama karena kedua pihak belum menemukan titik temu mengenai Selat Hormuz dan upaya gencatan senjata. Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar karena merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia menuju pasar global. Gangguan pada jalur tersebut dapat memberikan tekanan besar terhadap pasokan dan mendorong harga minyak lebih tinggi.

Ikuti pula berbagai update terbaru mengenai pasar finansial dan aktivitas PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya melalui Instagram resmi EWF Praxis.

Selain faktor geopolitik, harga minyak mendapatkan dukungan dari kondisi persediaan energi Amerika Serikat. Stok minyak mentah komersial AS turun ke level terendah sejak 2018. Sementara itu, cadangan strategis minyak AS juga mencatat penurunan selama 18 pekan berturut-turut dan berada di level terendah sejak 1983. Kondisi tersebut memberikan sinyal bahwa keseimbangan pasar fisik energi semakin ketat dan dapat menjadi faktor pendukung bagi harga minyak.

Dari sisi prospek, harga minyak masih berpotensi bergerak volatil karena investor harus menyeimbangkan risiko konflik Timur Tengah, potensi gangguan di Selat Hormuz, serta ancaman kelompok Houthi terhadap jalur pelayaran Laut Merah. Jika pasokan global semakin mengetat, Brent berpeluang bertahan di level tinggi dan kembali menguji US$90 per barel. Namun, kenaikan harga energi juga dapat memperbesar tekanan inflasi, mempertahankan ekspektasi suku bunga tinggi, serta memberikan tekanan terhadap saham dan aset berisiko. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai produk dan profil perusahaan, kunjungi PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya.

About Post Author

IT Sby Praxis

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *