
EQUITYWORLD FUTURES SURABAY PRAXIS – Pasar saham Asia Pasifik diperkirakan akan melemah pada hari Jumat (13/10), mengikuti tren yang terjadi di pasar AS karena tekanan inflasi yang terus berlangsung menyebabkan peningkatan yields obligasi jangka panjang dan naiknya dolar AS.
Pada pukul 06.40 WIB Jumat (13/10) pagi ini, KOSPI 200 Futures menguat 1,1%, Nikkei 225 Futures naik 0,2% dan S&P/ASX 200 turun 0,6%.
Hal ini terjadi setelah saham-saham AS mematahkan kenaikan beruntunnya selama empat hari usai sebuah laporan yang mengindikasikan bahwa harga konsumen bulan September naik 3,7% dari tahun sebelumnya, sedikit di atas perkiraan. Sementara itu, initial jobless claims tetap stabil 209.000, menggarisbawahi ketahanan pasar tenaga kerja.
Di AS, Dow Jones Industrial Average turun 173 poin menjadi 33631, sementara S&P 500 dan NASDAQ Composite melemah 0,6%.
Komoditas menutup kerugian semalam, dengan minyak Brent naik 0,5% menjadi US$86,35 per barel dan harga emas naik 0,1%.
Di pasar obligasi, yields obligasi pemerintah Australia 2 tahun turun ke 4,04%, dan yields 10 tahun turun di 4,476%. Sebaliknya, Treasury notes AS mengalami kenaikan, dengan yields 2 tahun mencapai 5,07% dan yields 10 tahun mencapai 4,7%.
Mata uang Asia diperdagangkan stabil setelah jatuh semalam, termasuk, Baht Thailand, Rupiah, dollar Australia, Won Korea, dan Dong Vietnam, sementara indeks dolar bertambah 0,7%.
Saham-saham China mengakhiri hari dengan positif setelah sovereign wealth fund China, Central Huijin Investment, meningkatkan kepemilikannya di empat bank utama di negara tersebut. Berita ini kemungkinan mendorong sentimen investor. Indeks Hong Kong juga ditutup menguat, terutama dipimpin oleh sektor perbankan, menyusul langkah strategis Central Huijin.
Nikkei 225 di Jepang melesat 1,75% dan ditutup di 3.494,66, didukung oleh meningkatnya prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve. Sementara itu, saham India melemah tipis, terseret oleh saham-saham IT.
Sementara itu, indeks di Eropa mengalami tren baik dengan STOXX 600, DAX, dan CAC 40 ditutup lebih tinggi tatkala saham-saham minyak dan pertahanan memimpin.
SUMBER: INVESTING.COM
