Dalam dokumen “dot plot” Desember 2023, anggota komite Federal Reserve memperkirakan setidaknya tiga kali penurunan suku bunga AS pada tahun 2024. Sebanyak delapan anggota memproyeksikan pemangkasan suku bunga setidaknya 75 basis poin (bps), sementara lima lainnya memperkirakan pemangkasan lebih dari 75 bps. Median ekspektasi suku bunga tercatat pada angka 4,6%, turun dibandingkan 5,1% dalam proyeksi September.
Pasar telah mengantisipasi keputusan untuk mempertahankan suku bunga, yang menandai akhir dari siklus kenaikan suku bunga sebanyak 11 kali, mendorong suku bunga The Fed ke level tertinggi dalam lebih dari 22 tahun. Berdasarkan survei CME FedWatch pada 3 Januari 2024, The Fed diperkirakan akan menahan suku bunganya pada pertemuan Januari 2024 dan mulai memangkas suku bunga pada Maret 2024.
Pemangkasan suku bunga The Fed diproyeksikan akan dimulai pada Maret 2024 sebesar 25 bps, hingga total pemangkasan mencapai 125 bps pada September 2024 dan 150 bps hingga Desember 2024, menjadi 3,75-4%. Secara teori, penurunan suku bunga AS akan melemahkan dolar AS dan mendorong harga emas naik, karena emas diperjualbelikan dalam dolar AS. Dolar yang melemah membuat emas lebih murah bagi pembeli luar AS, sehingga permintaan emas meningkat.
Pemangkasan suku bunga juga akan menekan imbal hasil US Treasury. Emas tidak menawarkan imbal hasil, sehingga melemahnya imbal hasil membuat emas lebih menarik. Namun, tidak seperti obligasi yang menawarkan kupon rutin, emas tidak memberikan imbal hasil, yang menjadi sentimen negatif bagi harga emas dunia.
Kendati demikian, analisis siklus pelonggaran The Fed sejak 1970-an yang dilakukan oleh Skylar Montgomery, direktur strategi makro di TS Lombard, menunjukkan bahwa harga emas rata-rata sedikit meningkat dalam 12 bulan setelah suku bunga mulai turun, namun tidak selalu demikian. Faktanya, harga emas cenderung turun cukup signifikan pada 1980-an hingga 1998.
Di tengah berbagai sentimen, harga emas dunia tampak masih cukup menarik pada 2024, mengingat negara-negara dengan ketertarikan budaya terhadap logam, seperti India, tumbuh dengan baik. Perlambatan sektor pertambangan juga membatasi pasokan, sementara bank sentral muncul sebagai pembeli besar untuk mendiversifikasi cadangan devisa.
Selain itu, krisis pada Maret 2023 (Silicon Valley Bank) menunjukkan bahwa emas menjadi aset safe haven yang dicari investor, yang berujung pada apresiasi harga emas dunia akibat tingginya permintaan.
Secara keseluruhan, meskipun potensi penurunan suku bunga di 2024 tidak serta merta membuat harga emas terbang tinggi, berbagai faktor eksternal dapat tetap membuat logam mulia ini menjadi pilihan investasi yang menarik.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
