0 0
Read Time:1 Minute, 52 Second

Para kepala ekonom dunia meramalkan prospek perekonomian global untuk tahun 2024 masih penuh ketidakpastian, menurut survei terbaru dari World Economic Forum (WEF) yang dirilis dalam Chief Economists Outlook edisi Januari 2024. Dari 30 responden yang berpartisipasi, sekitar 56% memperkirakan perekonomian global akan melemah, sementara 43% lainnya menganggap kondisi akan stagnan atau membaik dibandingkan 2023.

“Outlook Kepala Ekonom terbaru menyoroti kondisi perekonomian saat ini yang tengah dalam masa genting,” kata Saadia Zahidi, Managing Director World Economic Forum.

Mayoritas responden, sebanyak 77%, percaya bahwa pasar tenaga kerja global akan menghadapi tantangan besar tahun ini, sementara 70% memperkirakan kondisi keuangan akan memburuk. Meskipun ekspektasi inflasi yang tinggi telah sedikit berkurang, prospek pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah sangat bervariatif tanpa ada yang diperkirakan mengalami pertumbuhan kuat pada 2024.

Di Asia Selatan dan Asia Timur-Pasifik, mayoritas responden (93% dan 86%) memperkirakan pertumbuhan moderat, dengan sedikit yang memprediksi prospek lemah. Namun, China menjadi pengecualian dengan 69% responden memperkirakan pertumbuhan moderat, terbebani oleh konsumsi yang lemah dan masalah di sektor industri dan properti.

Di Eropa, prospek ekonomi telah melemah secara signifikan, dengan 77% responden memperkirakan pertumbuhan lemah atau sangat lemah. Amerika Serikat, Timur Tengah, dan Afrika Utara juga menghadapi prospek yang serupa, di mana sekitar enam dari 10 responden memprediksi pertumbuhan moderat atau lebih kuat.

Namun, terdapat peningkatan optimisme di Amerika Latin dan Karibia, Afrika Sub-Sahara, dan Asia Tengah, meskipun pandangan terhadap pertumbuhan secara keseluruhan masih moderat.

Ketidakpastian ekonomi global diperparah oleh proyeksi bahwa perpecahan geopolitik akan semakin memburuk. Sekitar 70% responden memperkirakan fragmentasi geoekonomi akan meningkat tahun ini, yang dapat memicu volatilitas di pasar saham (87%) dan kebijakan lokal (86%).

“Sebagian besar ekonom juga memperingatkan akan meningkatnya tekanan fiskal (79%) dan kesenjangan antara negara-negara berpendapatan tinggi dan rendah (66%),” tambah Zahidi.

Di sisi positif, keberadaan kecerdasan buatan (AI) dinilai dapat meningkatkan efisiensi produksi (79%) dan mendorong inovasi (74%). Namun, ada keprihatinan bahwa AI dapat memperbesar kesenjangan ekonomi antara negara-negara berpendapatan tinggi dan rendah, dengan hanya 53% responden di negara-negara berpendapatan rendah yang yakin akan mendapatkan manfaat ekonomi yang signifikan dari teknologi ini.

Secara keseluruhan, proyeksi ekonomi global 2024 menunjukkan tantangan yang signifikan, di tengah ketidakpastian geopolitik dan kemajuan teknologi yang cepat.

Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf

About Post Author

IT Sby Praxis

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *