Pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat pada tahun 2023, sejalan dengan melandainya konsumsi rumah tangga yang semestinya meningkat pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru). Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tercatat sebesar 5,05% pada 2023, lebih rendah dibandingkan 2022 yang tercatat sebesar 5,31%. Pada kuartal IV-2023, pertumbuhan PDB mencapai 5,04% year-on-year (yoy) .
Melandainya Konsumsi Rumah Tangga
Meskipun konsumsi rumah tangga tetap tumbuh sebesar 4,47% pada kuartal IV-2023 dan secara kumulatif naik 4,82% sepanjang 2023, angka tersebut adalah yang terendah sejak kuartal I-2022 . Sejak 2010 hingga 2023, rata-rata PDB pengeluaran konsumsi rumah tangga berada di angka 4,86%, atau 0,39 percentage point lebih tinggi dibandingkan kuartal IV-2023.
Prospek Konsumsi pada Kuartal I-2024
Meskipun konsumsi rumah tangga saat ini cenderung minim, ada harapan bahwa konsumsi akan meningkat pada kuartal I-2024. Sejarah menunjukkan bahwa pada tahun-tahun pemilu, seperti 2014 dan 2019, konsumsi rumah tangga tumbuh masing-masing sebesar 5,23% dan 5,02%. Selain itu, bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri yang akan datang diperkirakan akan mendongkrak konsumsi .
Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri, menyatakan bahwa konsumsi rumah tangga akan meningkat pada kuartal I-2024 didukung oleh bulan puasa dan libur Imlek. Libur panjang Imlek pada Februari tahun ini yang berlangsung empat hari juga diharapkan melambungkan konsumsi karena banyaknya warga yang bepergian .
Tantangan Ekonomi
Namun, bulan Januari biasanya mengalami penurunan konsumsi dibandingkan Desember. Rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi selalu turun pada Januari sejak 2018 hingga 2023, kecuali pada Januari 2021 yang mengalami peningkatan setelah pemulihan dari pandemi Covid-19 .
Ekonom Senior Mirae Asset Sekuritas, Rully Wisnubroto, memperkirakan bahwa konsumsi masih cukup baik pada awal 2024 meskipun melambat akibat kenaikan harga beberapa bahan pangan, terutama beras. Selain itu, siklus suku bunga tinggi yang dialami Indonesia saat ini juga menyebabkan perlambatan ekonomi .
Perspektif BPS
Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia A. Widyasanti, menyatakan bahwa daya beli rumah tangga masih cukup terjaga. Namun, perlambatan konsumsi rumah tangga terutama berasal dari perlambatan pengeluaran kelompok menengah. Rendahnya penerimaan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) dan penumpang angkutan udara mencerminkan perlambatan pengeluaran kelas menengah. Di sisi lain, ada peningkatan simpanan berjangka yang menunjukkan bahwa kelas menengah Indonesia mungkin mulai menggeser belanja ke investasi .
Kesimpulan
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat pada 2023 menunjukkan tantangan yang dihadapi dalam mendorong konsumsi rumah tangga. Namun, momen-momen seperti bulan puasa dan libur Imlek diharapkan dapat meningkatkan konsumsi pada kuartal I-2024. Pemerintah dan sektor swasta perlu bekerja sama untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi peningkatan konsumsi dan investasi, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di masa mendatang.
