Perlambatan ekonomi China yang belum membaik menjadi perhatian serius, terutama dalam konteks dampaknya terhadap investasi dan perdagangan Indonesia dengan negara tersebut. Deflasi dalam indeks harga konsumen (IHK) China pada tahun 2023, yang tercatat menurun sebesar 0,3% dan terus berlanjut selama tiga bulan berturut-turut, menjadi indikasi jelas dari rendahnya kepercayaan konsumen dan penurunan konsumsi.
Yusuf Rendy Manilet dari Center of Reform on Economic (CORE) menyoroti bahwa perlambatan ekonomi China ini tidak hanya mempengaruhi tingkat impor dari negara-negara mitra, tetapi juga dapat berdampak luas pada pelemahan ekonomi global. Kontribusi China terhadap perdagangan global sebelum pandemi mencapai 10,8%, sehingga penurunan aktivitas ekonomi di sana akan berdampak signifikan pada negara-negara mitra, termasuk Indonesia.
“Dampak pelemahan ekonomi China ini juga akan mempengaruhi proyeksi dan kinerja ekspor Indonesia sepanjang tahun 2024,” ujar Yusuf kepada Kontan pada Selasa (13/2).
Khususnya, harga komoditas yang turun menjadi perhatian utama karena berpotensi mengurangi penerimaan negara dari ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, nikel, dan minyak kelapa sawit mentah (CPO). Secara umum, Yusuf merekomendasikan pemerintah untuk mencari pasar alternatif dan meningkatkan diversifikasi ekspor, terutama ke negara-negara seperti Pakistan, India, dan Afrika Utara.
Namun demikian, Yusuf tetap meyakini bahwa China tetap akan menjadi mitra dagang utama Indonesia dalam jangka menengah panjang. Pangsa pasar yang besar dan variasi produk yang dimiliki China sulit untuk dilepaskan.
“Dalam meningkatkan perdagangan kedua negara, Indonesia bisa fokus pada produk-produk di luar komoditas unggulan untuk diekspor ke China, serta memperkuat hubungan dengan UMKM yang ingin mengakses pasar China,” tambahnya.
Perdagangan antara Indonesia dan China terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Ekspor Indonesia ke China meningkat dari tahun ke tahun, mencapai US$ 56,57 miliar pada November 2023, sementara impor juga menunjukkan peningkatan signifikan.
Untuk mengantisipasi dampak perlambatan ekonomi China yang lebih lanjut, Yusuf menyarankan agar pemerintah mengoptimalkan belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga sebagai langkah mitigasi. Upaya ini diharapkan dapat mengimbangi potensi perlambatan ekspor dan mendukung pertumbuhan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
