Resesi yang melanda Jepang dan Inggris telah meningkatkan ketidakpastian ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi kedua negara tersebut mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut pada akhir 2023, dan pasar kini menghadapi ancaman perlambatan ekonomi dari dua kekuatan besar lainnya, Amerika Serikat dan China.
Pengaruh terhadap Ekonomi Indonesia
Founder & CEO Finvesol Consulting, Fendi Susiyanto, menilai bahwa resesi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara maju sudah terprediksi sejak lama. Meskipun kontribusi dari ekspor terpangkas, Fendi optimistis bahwa ekonomi Indonesia bisa tetap stabil di level 5% berkat dorongan konsumsi dalam negeri yang kuat. Ia juga yakin bahwa pasar modal Indonesia masih menarik bagi investor asing karena yield of return yang tinggi.
“Flow of fund dari resesi global akan masuk ke Indonesia karena yield of return Indonesia sangat atraktif dari perspektif investor asing,” tambah Fendi. Guntur Putra, CEO Pinnacle Persada Investama, menekankan bahwa prospek bursa saham Indonesia akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk resesi global dan perlambatan ekonomi di negara mitra dagang Indonesia.
Sektor yang Rentan dan Berpotensi
Emiten berorientasi ekspor seperti sektor industri dan komoditas, termasuk manufaktur, tambang, dan energi, rentan terhadap penurunan permintaan dari negara-negara yang mengalami resesi. Komoditas energi seperti batubara dan minyak mentah berpotensi mengalami tekanan, sedangkan komoditas pertanian seperti kelapa sawit berpeluang tetap stabil. Produk kayu, makanan, dan barang konsumsi lainnya yang bergantung pada ekspor juga dapat terdampak oleh penurunan permintaan.
Tensi Geopolitik dan Harga Komoditas
Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani, menyebut bahwa tensi geopolitik dapat mempengaruhi prospek komoditas energi seperti harga minyak mentah. “Disrupsi di wilayah kunci seperti Laut Merah dan konflik Israel-Hamas dapat mendongkrak harga minyak,” terang Arjun. Sementara itu, Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas Indonesia menyarankan untuk tetap waspada terhadap saham komoditas tambang dan energi yang berfundamental lemah dan memiliki eksposur tinggi terhadap volatilitas harga komoditas.
Saham yang Direkomendasikan
Situasi ini berpotensi memberikan peluang bagi emiten yang fokus pada pasar domestik seperti consumer goods dan sektor kesehatan yang mendapat katalis positif saat terjadi penurunan harga komoditas atau bahan baku. Menurut Head of Research & Fund Manager Syailendra Capital, Rizki Jauhari, penurunan inflasi global yang diikuti penurunan suku bunga dapat membawa katalis positif bagi saham di sektor properti, teknologi, perbankan, menara telekomunikasi, dan jalan tol.
Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada, sepakat bahwa potensi resesi dapat mendorong bank sentral untuk menurunkan suku bunga, yang pada gilirannya dapat mempercepat ekspansi kredit dan menjaga kelangsungan dunia usaha. Ia menyarankan untuk waspada terhadap saham tambang energi dan mineral seperti PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Sebaliknya, saham yang diuntungkan dari penurunan harga bahan baku seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menjadi lebih menarik.
Sukarno Alatas menambahkan, saham dari sektor defensif dan emiten berfundamental kuat dengan potensi pertumbuhan stabil seperti ICBP, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan bank besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga layak dilirik.
Dalam menghadapi ketidakpastian global, diversifikasi dan pemilihan saham yang tepat menjadi kunci untuk menjaga dan meningkatkan nilai investasi.
Jangan lupa untuk cek dan coba website kami di ewf trading
