Menteri Keuangan Amerika Serikat, Janet Yellen, menegaskan dalam wawancara Rabu waktu setempat bahwa AS tidak akan mengalami stagflasi yang ditakuti. Menurutnya, sebagian besar ramalan justru memperkirakan inflasi akan mereda karena biaya perumahan bergerak ke arah yang lebih rendah.
Yellen menyoroti bahwa biaya perumahan merupakan penyumbang terbesar terhadap inflasi saat ini. Dia optimis bahwa biaya ini akan turun dalam tahun ini, mengurangi tekanan harga secara signifikan.
Meskipun demikian, Yellen mengakui kesalahannya sebelumnya dalam memperkirakan bahwa inflasi AS hanya bersifat “sementara”. Dia menyatakan bahwa menurunkan kenaikan harga memerlukan waktu lebih lama daripada yang diperkirakan sebelumnya, mengingat tantangan yang dihadapi pemerintah.
Inflasi konsumen AS telah turun dari puncaknya pada tahun 2022 tetapi kembali meningkat secara tak terduga pada bulan Februari, mencapai 3,2% secara tahunan. Yellen menyoroti bahwa lebih dari 60% kenaikan ini disebabkan oleh harga tempat tinggal dan bensin.
Sementara itu, inflasi inti yang tidak termasuk barang-barang bergejolak seperti makanan dan energi, meskipun turun menjadi 3,8% dari 3,9%, masih tetap di atas perkiraan sebesar 3,7%.
Sebelumnya, CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, mengutarakan kemungkinan stagflasi dalam ekonomi AS, yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan ekonom. Meskipun perekonomian AS saat ini sedang “booming”, Dimon menekankan bahwa risiko-risiko tetap ada dan Federal Reserve (The Fed) perlu berhati-hati dalam menaikkan suku bunga untuk menghadapi kondisi ini.
Pandangan Dimon sendiri mengalami perubahan dari optimisme sebelumnya terhadap pasar dunia menjadi sedikit pesimis, dengan peringatannya bahwa AS bisa menghadapi badai ekonomi pada tahun 2022.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
