Jakarta, 28 Maret 2024 โ Rupiah terus mengalami tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa pekan terakhir. Pada penutupan perdagangan kemarin (27/3/2024), rupiah melemah sebesar 0,41% menjadi Rp15.850 per dolar AS. Level ini merupakan yang terendah sejak 1 November 2023, mencerminkan tren penurunan yang signifikan dalam waktu singkat.
Pelemahan rupiah belakangan ini dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) AS. Meskipun ada harapan bahwa The Fed akan memotong suku bunga sebesar 75 basis poin hingga akhir 2024, pernyataan dari Jerome Powell belum memberikan keyakinan yang cukup. Dokumen dot plot dari The Fed menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil pejabat bank sentral yang memproyeksikan pemotongan suku bunga sebesar itu.
Namun, data ekonomi AS belakangan belum menunjukkan sinyal yang memadai untuk mendukung ekspektasi tersebut, terutama dari segi ketenagakerjaan dan inflasi. Pada Februari 2024, tingkat inflasi AS naik menjadi 3,2% year-on-year, melampaui konsensus pasar sebesar 3,1%, yang menambah ketegangan di pasar.
Dalam konteks ini, indeks dolar AS (DXY) menguat, mencapai 104,35 pada 27 Maret 2024 dan mengalami apresiasi sebesar 2,98% year-to-date. Penguatan ini memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah, karena arus modal mencari keamanan di tengah ketidakpastian global.
Para analis memperkirakan bahwa rupiah bisa menguat kembali pada Mei 2024, seiring dengan antisipasi pasar terhadap pemotongan suku bunga The Fed yang mungkin terjadi pada Juni 2024. Survey CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku pasar meyakini kemungkinan pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan tersebut.
Meskipun demikian, ketidakpastian masih tinggi di AS, dengan kekhawatiran akan inflasi yang sulit turun dan dampaknya terhadap kebijakan moneter. Capital outflow dari Emerging Markets (EMs) ke safe haven masih berlangsung, memperkuat tekanan terhadap mata uang EMs dan menaikkan yield obligasi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan rupiah akan terus dipengaruhi oleh dinamika eksternal, terutama data ekonomi AS dan kebijakan The Fed, sementara pasar juga akan memantau perkembangan dalam negeri untuk memprediksi potensi perubahan dalam arus modal dan nilai tukar rupiah ke depan.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
