Ketidakpastian terkait arah suku bunga global semakin meningkat, mencatat divergensi di antara bank sentral utama dunia dalam menetapkan kebijakan moneternya.
PT Bank Permata Tbk, melalui Permata Institute for Economic Research (PIER), mengeluarkan riset terbarunya berjudul “Anticipating the Return of Twin Deficit and The Fed’s Long and Winding Road”. Riset ini membahas arah kebijakan moneternya di sejumlah negara, termasuk potensi dampaknya terhadap Indonesia.
Pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir, The Fed menggembirakan pasar dengan merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi dan inflasi inti AS untuk tahun ini, mencerminkan ketahanan yang solid dan resilien ekonomi Amerika Serikat.
Namun demikian, kondisi pasar tenaga kerja yang masih ketat dan perlambatan disinflasi menunjukkan bahwa The Fed tetap membuka kemungkinan untuk pemangkasan suku bunga acuan dalam tahun ini, meski dengan sikap hati-hati.
Divergensi kondisi suku bunga global telah memicu sentimen risiko (risk-off) di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yang tercermin dalam net outflow obligasi Indonesia sepanjang tahun ini. Investor cenderung mengalihkan portofolio mereka ke aset safe-haven, memperburuk pelemahan mata uang Asia, termasuk Rupiah.
Josua Pardede, Chief Economist PermataBank, juga menyoroti risiko kembalinya twin deficit di Indonesia, dengan defisit neraca transaksi berjalan dan fiskal yang berpotensi melebar. Normalisasi harga komoditas dan kondisi ekonomi Tiongkok yang melambat turut memperburuk surplus neraca dagang Indonesia.
Dari sisi fiskal, program-program pemerintah baru diharapkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, namun meningkatkan belanja negara yang signifikan juga menimbulkan ketidakpastian terkait penerimaan negara yang cenderung menurun seiring normalisasi harga komoditas.
Pemangkasan kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) sejak awal tahun memperumit keputusan Bank Indonesia (BI) dalam menentukan timing dan besaran pemotongan BI-rate ke depan.
Dalam jangka pendek, di tengah meningkatnya risiko inflasi dari harga pangan, Bank Indonesia cenderung mempertahankan BI-rate pada level saat ini, dengan kemungkinan adanya ruang untuk pemangkasan pada paruh kedua tahun ini.
Bank sentral lainnya, seperti ECB dan BoE, telah memberikan sinyal dovish dengan potensi pemangkasan suku bunga acuannya lebih cepat dalam tahun ini, seiring terus berlanjutnya proses disinflasi di kawasan Eropa dan Inggris Raya yang mencatatkan kontraksi ekonomi teknis dalam dua kuartal terakhir.
Sementara Swiss National Bank (SNB) menjadi yang pertama kali melakukan pemangkasan suku bunga acuan pada tahun ini, sesuai dengan inflasi yang telah konsisten berada di bawah targetnya.
BoJ, sebaliknya, memilih keluar dari zona suku bunga acuan negatif dengan menaikkan suku bunga jangka pendeknya, menghadapi risiko inflasi dari kenaikan gaji tertinggi dalam tiga dekade terakhir. Meskipun begitu, BoJ tetap akomodatif dalam menjaga suku bunga jangka panjang dengan strategi yang diubah untuk Yield Curve Control (YCC).
Artikel ini ditulis berdasarkan riset terbaru dari PT Bank Permata Tbk, membahas implikasi kebijakan moneter global dan risiko yang dihadapi Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global yang semakin meningkat.
