0 0
Read Time:2 Minute, 25 Second

Ekonomi Indonesia berhasil tumbuh 5,11% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2024, didukung oleh konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Namun, secara kuartalan (quartal to quartal/qtq), ekonomi terkontraksi sebesar 0,83% pada Januari-Maret 2024, sebagaimana diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (6/5/2024).

Besaran realisasi Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2024 sejalan dengan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi, yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,09%. Menurut data BPS, perekonomian Indonesia berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku triwulan I-2024 mencapai Rp 5.288,3 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 Rp 3.112,9 triliun.

Peningkatan Konsumsi dan Belanja Pemerintah

Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% pada kuartal I-2024 adalah yang tertinggi sejak kuartal III-2023. Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan bahwa ini adalah pertumbuhan ekonomi kuartal I tertinggi sepanjang periode 2019 sampai 2024. Jika ditarik lebih jauh, pertumbuhan ini merupakan yang tertinggi untuk kuartal I sejak 2014, ketika PDB tumbuh sebesar 5,12%.

Amalia menyebut bahwa penyumbang utama pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran adalah konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Momentum Lebaran dan Pemilu 2024 turut mendorong konsumsi rumah tangga yang mencapai 4,91% dan memberikan kontribusi sebesar 54,93% terhadap PDB. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal IV-2023 yang hanya mencapai 4,47% (yoy).

Tantangan Inflasi dan Daya Beli

Meski konsumsi rumah tangga meningkat, pertumbuhannya masih lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi Covid-19. Pada kuartal I-2019, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,02% (yoy). Kenaikan harga pangan menjadi salah satu penyebab utama melemahnya daya beli masyarakat. Data BPS menunjukkan inflasi pada periode Januari-Maret 2024 mencapai 0,93%, tertinggi sejak Januari-Maret 2018. Inflasi harga bergejolak, yang didominasi oleh bahan pangan, bahkan menembus 3,7%.

Prospek Ekonomi ke Depan

Meskipun ada tantangan, momentum pertumbuhan ekonomi masih berlanjut selepas pandemi Covid-19. Daya beli masyarakat kembali membaik pada kuartal I-2024, didukung oleh momen Idul Fitri, Ramadhan, dan pembagian Tunjangan Hari Raya (THR).

Namun, BCA dalam laporannya “Momentary sugar high” menjelaskan bahwa konsumsi tetap tertekan akibat lonjakan harga pangan. Pertumbuhan kelompok konsumsi terbesar terlihat pada makanan dan minuman selain restoran serta perumahan dan perlengkapan rumah tangga, sejalan dengan lonjakan permintaan selama Ramadhan.

Sementara itu, sektor-sektor yang terkait dengan Lebaran, seperti pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya, justru melemah, dengan pertumbuhan hanya 1,72% pada kuartal I-2024, terendah sejak kuartal IV-2021.

Kesimpulan

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,11% pada kuartal I-2024 mencerminkan pemulihan yang kuat dari dampak pandemi, meski tantangan seperti inflasi dan daya beli tetap ada. Ke depannya, pertumbuhan ekonomi masih akan cukup menantang jika inflasi tidak terkendali dan daya beli masyarakat terus tertekan. Namun, dengan kebijakan yang tepat, Indonesia berpotensi untuk terus tumbuh dan memperkuat perekonomiannya.

 

Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf

About Post Author

IT Sby Praxis

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *