0 0
Read Time:1 Minute, 58 Second

Peringatan baru mengenai potensi resesi secara tiba-tiba muncul dari Paul Dietrich, Kepala Strategi Investasi di B. Riley Wealth Management. Dietrich, yang dikenal sebagai salah satu peramal resesi 2008, kini memperingatkan bahwa perekonomian Amerika Serikat (AS) mungkin mendekati resesi.

“Dalam catatan terbaru saya, ada sejumlah besar indikasi yang menunjukkan bahwa perekonomian AS hampir pasti menuju resesi,” tegas Dietrich dalam wawancara dengan Business Insider yang dikutip pada Jumat (19/5/2024).

Tanda-Tanda Resesi: Inflasi dan Volatilitas

Dietrich mencatat beberapa tanda peringatan, antara lain inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan sepanjang kuartal pertama tahun ini dan volatilitas pasar yang meningkat. Saham dan obligasi juga menunjukkan kenaikan yang tidak signifikan, sementara harga minyak dan emas, yang biasanya menunjukkan performa baik dalam kondisi inflasi, malah mengalami lonjakan.

“Pertumbuhan ekonomi mulai melambat, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) hanya meningkat 1,6% pada kuartal pertama, menurun dari 3,4% pada kuartal terakhir tahun lalu,” kata Dietrich.

Ia juga menyoroti penurunan kepercayaan konsumen dan pelambatan pertumbuhan lapangan kerja, dengan tingkat pengangguran baru-baru ini mencapai level tertinggi dalam dua tahun. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS hampir empat kali lipat dari imbal hasil dividen S&P 500, menunjukkan bahwa investor mengantisipasi suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka panjang. Ini merupakan imbal hasil Treasury tertinggi sejak tahun 2001, dan hanya kedua kalinya dalam 100 tahun terakhir imbal hasil tersebut mencapai angka setinggi itu.

Perbandingan dengan Gelembung Dot-Com

Dietrich mengibaratkan situasi saat ini dengan gelembung Dot-com pada tahun 2001-2002. Ia berpendapat bahwa resesi berikutnya mungkin sebenarnya “telah tertunda” akibat stimulus triliunan dolar selama pandemi, namun perekonomian masih berada di jalur penurunan. “Ketika dukungan tersebut berhenti, ini bisa menjadi pukulan terakhir bagi pasar saham, yang tampaknya ditopang oleh kepercayaan investor yang berlebihan dan terputusnya hubungan dengan fundamental perusahaan,” tambah Dietrich.

Prediksi dan Implikasi

Dietrich memperingatkan bahwa belanja defisit saat ini tidak berkelanjutan dan akan berdampak buruk terhadap lapangan kerja, perekonomian, dan pasar saham global jika hal ini berakhir. Menurutnya, “Jika situasi ini tidak berubah, dampaknya akan sangat merugikan.”

Sebagai salah satu peramal ekonomi paling bearish tahun ini, Dietrich mengingatkan bahwa seruan akan terjadinya resesi sempat mereda, dengan banyak pengamat memperkirakan penurunan yang akan datang hanya bersifat sementara. Sebelumnya, Dietrich telah memperkirakan bahwa saham AS bisa turun hingga 44% akibat melemahnya perekonomian AS, meskipun resesinya mungkin ringan.

Jangan lupa untuk cek dan coba website kami di ewf trading

About Post Author

IT Sby Praxis

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *