Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis sebesar 0,06% pada perdagangan hari Rabu (31/10), meskipun diiringi dengan aksi jual bersih (net sell) asing sebesar Rp85 miliar. Pergerakan IHSG yang relatif stabil terjadi di tengah ketidakpastian pasar, dengan sejumlah saham besar menjadi sasaran jualan asing. Saham-saham yang paling banyak dibeli asing antara lain adalah Bank Mandiri (BMRI), Bank Central Asia (BBCA), Astra International (ASII), Bank Negara Indonesia (BBNI), dan Bumi Resources Minerals (BRMS).
Di pasar global, indeks-indeks Wall Street mengalami penurunan yang signifikan pada Kamis (31/10), dipengaruhi oleh laporan keuangan kuartalan dari beberapa perusahaan teknologi besar yang mengecewakan. Indeks S&P 500 tergerus 1,86%, menutup perdagangan di level 5.705,45. Indeks Nasdaq Composite juga merosot tajam hingga 2,76%, berada di level 18.095,15, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,9% menjadi 41.763,46. Salah satu penyebab utama melemahnya indeks-indeks utama tersebut adalah penurunan harga saham Microsoft yang melandai hingga 6%. Meskipun laba kuartalan perusahaan melampaui ekspektasi, panduan pendapatan yang disampaikan oleh Microsoft tidak memenuhi perkiraan pasar. Begitu juga dengan saham Meta Platforms, yang turun lebih dari 4% setelah pengumuman mengenai jumlah pengguna yang tidak sesuai dengan ekspektasi dan proyeksi peningkatan belanja modal perusahaan pada 2025.
Namun, pasar saham AS masih menunggu laporan keuangan dari Apple dan Amazon yang dijadwalkan dirilis setelah penutupan perdagangan pada Kamis. Di sisi lain, data ekonomi AS terbaru menunjukkan bahwa indeks PCE (Personal Consumption Expenditures) mencatat inflasi tahunan sebesar 2,1% pada bulan September, sesuai dengan perkiraan pasar dan mendekati target 2% yang ditetapkan oleh The Fed. Data inflasi ini, bersama dengan laporan tenaga kerja (payroll) dan angka pengangguran untuk bulan Oktober yang akan dirilis pada Jumat (1/11), diperkirakan akan menjadi bahan pertimbangan dalam keputusan suku bunga yang akan diambil oleh The Fed pada (7/11).
Sementara itu, bursa saham Asia-Pasifik mayoritas mengalami pelemahan pada Kamis (31/10), setelah keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ) dan data aktivitas bisnis utama dari China. BoJ memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di tengah meningkatnya ketidakpastian mengenai prospek perekonomian Jepang, serta stabilitas politik pasca hasil pemilu yang mengecewakan bagi koalisi yang berkuasa sejak tahun 2009. Di China, Biro Statistik Nasional merilis data PMI manufaktur yang sedikit lebih tinggi dari perkiraan, yakni 50,1, menunjukkan sedikit ekspansi di sektor manufaktur.
Di pasar saham China, indeks CSI300 dan Shanghai Composite masing-masing mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,04% dan 0,42%. Namun, mayoritas pasar saham Asia-Pasifik lainnya mengalami penurunan. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,50%, sedangkan indeks Topix melemah 0,30%. Di Korea Selatan, indeks Kospi tergerus 1,45%, meskipun indeks Kosdaq berhasil naik tipis sebesar 0,66%. Para investor juga menantikan laporan keuangan Samsung Electronics yang dijadwalkan dirilis pada Kamis. Selain itu, bursa saham Australia juga mencatatkan pelemahan, dengan indeks S&P/ASX 200 turun 0,25%, dan indeks Hang Seng di Hong Kong melemah 0,31%.
Secara keseluruhan, meskipun IHSG mencatatkan sedikit kenaikan, pasar global dan bursa Asia-Pasifik terlihat lebih rentan terhadap sentimen negatif akibat hasil laporan keuangan yang kurang memuaskan dari perusahaan-perusahaan besar, serta ketidakpastian ekonomi yang semakin meningkat di beberapa negara. Para investor kini tengah menantikan rilis data ekonomi dan laporan keuangan lebih lanjut, yang dapat mempengaruhi keputusan suku bunga dan arah pergerakan pasar di minggu-minggu mendatang.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
