Pada hari Jumat (15/11), Dolar AS diperkirakan akan mencatatkan kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari sebulan, didorong oleh perubahan ekspektasi pasar terkait penurunan suku bunga dan keyakinan bahwa kebijakan ekonomi Presiden terpilih Donald Trump berpotensi memicu inflasi.
Peningkatan nilai dolar ini terutama disebabkan oleh optimisme pasar terhadap kebijakan pemerintahan Trump, termasuk penerapan tarif perdagangan dan pemotongan pajak, yang dipandang dapat meningkatkan tekanan inflasi. Hal ini memberikan alasan bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga, bahkan mungkin tidak melakukan pemotongan lebih lanjut.
Komentar dari Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, pada Kamis lalu, yang mengatakan bahwa bank sentral tidak perlu terburu-buru menurunkan suku bunga, semakin memperkuat ekspektasi ini. Kondisi ini membuat para pelaku pasar menghentikan taruhan agresif terhadap penurunan suku bunga di masa depan.
Dolar juga menguat terhadap yen Jepang, diperdagangkan di atas level 156 yen untuk pertama kalinya sejak Juli, meskipun akhirnya turun 0,9% menjadi 154,94 yen per dolar. Selain itu, euro mengalami penurunan menuju kerugian mingguan kedua berturut-turut, merosot ke level terendah sejak Oktober 2023, dengan stagnasi di level $1,0530.
Sementara itu, data penjualan ritel AS yang dirilis pada hari Jumat menunjukkan sedikit kenaikan, meskipun ada tanda-tanda pelambatan dalam belanja konsumen di awal kuartal keempat. Gubernur Federal Reserve Boston, Susan Collins, dalam komentarnya di Wall Street Journal, menyebutkan bahwa pemotongan suku bunga bisa segera dihentikan pada pertemuan Fed 17-18 Desember, tergantung pada data inflasi dan pasar tenaga kerja yang masuk. Probabilitas pemotongan suku bunga pada bulan Desember kini menurun menjadi sekitar 57%, turun dari 82% yang tercatat sehari sebelumnya.
Sterling (Pound Inggris) mengalami penurunan mingguan terburuknya sejak Januari 2023, dengan penurunan sekitar 2%, terakhir diperdagangkan di $1,2629. Penurunan ini terjadi meskipun data ekonomi Inggris menunjukkan adanya kontraksi tak terduga pada bulan September, dan pertumbuhan ekonomi yang melambat di kuartal ketiga.
Dolar AS juga menguat terhadap sekeranjang mata uang utama, dengan Indeks Dolar AS (DXY) berada di level tertinggi satu tahun di angka 106,81, mencatatkan kenaikan hampir 1,73% minggu ini, yang merupakan performa terbaik sejak September. Namun, pada perdagangan terakhir, dolar sedikit turun 0,13% menjadi 106,74.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
