Harga minyak mengalami penurunan tipis pada perdagangan Asia hari Rabu (27/11), memperpanjang kerugian sebelumnya setelah Israel menyetujui kesepakatan gencatan senjata dua bulan. Minyak mentah berjangka Brent yang jatuh pada bulan Januari turun 0,2% menjadi $72,70 per barel, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) juga turun 0,2% menjadi $68,30 per barel pada pukul 20:47 ET (01:47 GMT).
Penurunan harga minyak ini dipengaruhi oleh laporan yang mengindikasikan bahwa gencatan senjata Israel-Hizbullah akan meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang sering kali berpengaruh pada harga minyak. Namun, kerugian harga minyak teredam oleh laporan dari Reuters yang menyatakan bahwa Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) sedang mempertimbangkan penundaan lebih lanjut dalam rencana peningkatan produksi. Rapat OPEC+ dijadwalkan pada 1 Desember mendatang.
Di sisi lain, laporan dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan penurunan tak terduga dalam persediaan minyak AS, dengan persediaan menyusut hampir 6 juta barel pada pekan yang berakhir 22 November. Data ini lebih rendah dari perkiraan analis yang memperkirakan peningkatan 0,25 juta barel. Penurunan ini meningkatkan harapan bahwa permintaan bahan bakar AS tetap kuat, yang bisa memperketat pasokan minyak dalam beberapa bulan mendatang. Data resmi dari pemerintah AS diperkirakan akan mengonfirmasi hal ini pada hari Rabu.
Namun, faktor gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah tetap memberi tekanan pada harga minyak. Presiden AS Joe Biden mengumumkan pada hari Selasa bahwa kesepakatan gencatan senjata akan mencakup penarikan pasukan Israel dari Lebanon dalam 60 hari, sementara Hizbullah akan menarik pasukannya dari wilayah perbatasan yang dikenal sebagai “Garis Biru” antara Lebanon dan Israel.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
