Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) sedikit melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), meskipun sesi perdagangan berlangsung bergejolak. Melemahnya dolar ini terjadi setelah komentar Presiden AS Donald Trump yang menyerukan penurunan suku bunga tanpa memberikan kejelasan terkait kebijakan tarif, membuat investor cemas dan menunggu serangkaian pengumuman kebijakan dari bank sentral global.
Menurut data yang dihimpun dari Yahoo Finance, Jumat (24/1/2025), dolar AS tercatat turun lebih dari satu persen sepanjang minggu ini, sebagian besar disebabkan oleh penurunan tajam pada Senin lalu. Hal ini terkait dengan pengumuman tarif yang diharapkan pasca-pelantikan Trump, namun tidak terwujud. Sejak saat itu, pergerakan dolar cenderung stabil meskipun masih berfluktuasi.
Pada hari Kamis tersebut, dolar berayun antara keuntungan dan kerugian. Dalam pidatonya kepada para pemimpin bisnis dan politik global di Davos, Swiss, Trump kembali menuntut negara-negara di dunia untuk menurunkan suku bunga. Trump juga memperingatkan bahwa negara-negara yang membuat produk di luar AS akan menghadapi tarif. Hal ini membuat pasar semakin tidak pasti mengenai kebijakan ekonomi AS ke depan.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama seperti yen dan euro, turun 0,19 persen menjadi 108,06. Sementara itu, euro sedikit menguat 0,14 persen terhadap dolar, diperdagangkan di USD 1,0422.
Sejak awal Januari, dolar AS sempat mencapai level tertingginya dalam lebih dari dua tahun di angka 110,17, yang didorong oleh ekspektasi ekonomi AS yang kuat dan kemungkinan penerapan tarif yang dapat membebani mata uang negara lain. Namun, ketidakpastian kebijakan yang ditinggalkan oleh Trump pasca-pelantikan tampaknya mulai menekan pergerakan dolar.
Investor kini menantikan langkah-langkah kebijakan selanjutnya dari bank sentral global, yang diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai arah pergerakan mata uang AS di masa depan.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
