Kurs rupiah mencatatkan penguatan signifikan dalam sepekan terakhir hingga Jumat (24/1/2025), dipicu oleh sentimen positif dari pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memberi sinyal bahwa kebijakan tarif yang diharapkan tidak akan terlalu agresif.
Pada penutupan Jumat (24/1), kurs rupiah ditutup pada level Rp 16.172 per dolar AS, menguat 1,3% dibandingkan posisi Rp 16.380 per dolar AS pada Jumat (17/1). Sebagai catatan, kurs rupiah Jisdor (kurs acuan Bank Indonesia) juga mengalami penguatan 1,06% dalam pekan ini, mencapai Rp 16.200 per dolar AS, setelah sebelumnya berada di Rp 16.373 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa penguatan rupiah didorong oleh pernyataan Trump dalam World Economic Forum (WEF) yang memberi sinyal bahwa kebijakan tarif terhadap China tidak akan diterapkan dengan agresif seperti yang diperkirakan sebelumnya. “Pernyataan Trump itu memberikan optimisme bahwa kebijakan tarif dari Donald Trump tidak akan terlalu agresif,” ujar Josua.
Kondisi ini memberikan sentimen positif terhadap pasar keuangan global, termasuk rupiah, yang menguat cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir. Pasar merespons optimisme bahwa ketegangan perdagangan antara AS dan China dapat mereda, sehingga mengurangi risiko inflasi dan ketidakpastian ekonomi yang sempat membayangi.
Seiring dengan menguatnya rupiah, investor semakin yakin bahwa kondisi pasar akan tetap stabil, setidaknya dalam jangka pendek, seiring dengan prospek positif dari kebijakan perdagangan yang lebih moderat.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
