Emas Tembus USD 5.000: Apa yang Memicu Lonjakan Mendadak?
Harga emas menembus level USD 5.000 per ounce untuk pertama kalinya dalam sejarah, melanjutkan reli tajam seiring meningkatnya kegelisahan pasar global. Investor kini mulai menjauhi obligasi pemerintah dan mata uang, dan beralih ke aset lindung nilai seperti emas.
Kenaikan ini terjadi pada awal perdagangan Senin, setelah emas melonjak 8,5% sepanjang pekan lalu. Pendorong utama reli datang dari pelemahan dolar AS, yang membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli di luar Amerika Serikat.
Indikator Dolar Bloomberg tercatat turun 1,6%, penurunan mingguan terbesar sejak Mei. Secara historis, pelemahan dolar sering kali menjadi katalis kuat bagi kenaikan harga logam mulia karena meningkatkan permintaan global. Sejalan dengan emas, harga perak juga mencetak rekor tertinggi baru.
Reli emas semakin menegaskan perannya sebagai βtermometer ketakutanβ pasar. Dalam dua tahun terakhir, harga emas telah lebih dari dua kali lipat. Setelah mencatatkan performa tahunan terbaik sejak 1979, emas kini telah naik sekitar 15% sepanjang tahun ini.
Lonjakan ini didorong oleh kombinasi berbagai risiko: meningkatnya ketegangan geopolitik, ketidakpastian arah kebijakan global, serta kekhawatiran terhadap stabilitas institusional. Faktor-faktor tersebut mendorong investor semakin agresif menerapkan strategi risk-off, dengan meninggalkan aset berisiko dan mencari perlindungan di aset safe haven.
Pada pukul 07.22 waktu Singapura, harga emas naik 0,8% ke USD 5.029,05 per ounce. Perak turut menguat 1,7% ke USD 104,91, sementara palladium menguat dan platinum justru melemah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar global sedang berada dalam fase defensif, di mana keamanan aset menjadi prioritas utama dibandingkan imbal hasil.
(asd)
Sumber: Indonesia News Portal for Traders | Financial & Business Updates
