Harga perak (XAG/USD) melanjutkan penguatan untuk hari ketiga berturut-turut pada perdagangan Jumat (27/2). Logam mulia tersebut melonjak hampir 3% dan diperdagangkan di sekitar level US$91,39 per ons, didorong meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah tingginya tekanan inflasi Amerika Serikat serta ketidakpastian geopolitik global.
Kenaikan harga perak terjadi setelah data inflasi produsen AS atau Producer Price Index (PPI) Januari dirilis lebih tinggi dari perkiraan pasar. PPI utama tercatat naik 0,5% secara bulanan (MoM), melampaui ekspektasi sebesar 0,3%. Sementara itu, secara tahunan (YoY), PPI berada di level 2,9%, lebih tinggi dibandingkan proyeksi pasar sebesar 2,6%. Data ini memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi di AS masih cukup kuat dan belum sepenuhnya mereda.
Komponen sektor jasa menjadi penyumbang terbesar kenaikan inflasi produsen tersebut. Indeks jasa tercatat naik 0,8%, dipimpin oleh sektor trade services yang melonjak 2,5%. Bahkan margin wholesaling untuk peralatan profesional dan komersial tercatat naik tajam hingga 14,4%, memunculkan indikasi bahwa pelaku usaha mulai meneruskan dampak tarif impor ke harga konsumen.
Untuk memahami lebih jauh peluang investasi dan trading logam mulia maupun komoditas global lainnya, kunjungi PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya. Anda juga dapat mencoba simulasi transaksi melalui Demo Account Trading EWF guna mempelajari dinamika pasar dan fitur trading secara langsung.
Selain inflasi, pasar juga dibayangi ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat. Investor masih mencermati rencana tarif global sebesar 10% yang berpotensi dinaikkan menjadi 15% untuk sejumlah negara tertentu. Situasi ini membuat pelaku pasar cenderung lebih defensif dan meningkatkan minat terhadap aset safe haven seperti emas dan perak.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik juga turut memperkuat sentimen positif bagi logam mulia. Pembicaraan nuklir antara AS dan Iran dinilai belum memberikan kepastian yang benar-benar menenangkan pasar. Kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah muncul laporan bahwa Departemen Luar Negeri AS mengizinkan keberangkatan personel non-esensial beserta keluarga dari misi diplomatik AS di Israel.
Kondisi tersebut memicu reaksi cepat di pasar logam mulia karena investor kembali mencari instrumen lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Kombinasi tekanan inflasi, risiko geopolitik, serta ketidakjelasan arah kebijakan perdagangan membuat perak tetap menjadi salah satu aset yang paling diminati dalam beberapa sesi terakhir.
Ikuti update market, analisis trading, dan berita ekonomi terbaru melalui Instagram Equityworld Praxis Official serta jaringan sosial media resmi perusahaan di Linktree EWF Praxis. Informasi finansial dan perkembangan pasar global lainnya juga dapat Anda baca melalui Newsmaker.id.
