Harga minyak menguat tajam pada perdagangan Jumat (27/2) setelah pasar kembali menambahkan premi risiko geopolitik menyusul pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang diperpanjang tanpa menghasilkan terobosan signifikan. Kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah membuat pelaku pasar kembali bersikap defensif, terutama terkait risiko distribusi minyak melalui jalur strategis dunia.
Pada perdagangan terbaru, minyak Brent tercatat naik sekitar 3,24% dan diperdagangkan di level US$73,14 per barel. Sementara itu, minyak WTI menguat sekitar 2,83% ke posisi US$67,06 per barel. Kenaikan tersebut mempertegas reli harga minyak yang terjadi dalam beberapa sesi terakhir, seiring pasar terus bereaksi terhadap perubahan headline negosiasi antara Washington dan Teheran.
Pelaku pasar menilai putaran pembicaraan nuklir di Jenewa masih berlangsung dalam kondisi rapuh. Sempat muncul laporan mengenai kebuntuan pembahasan terkait isu pengayaan uranium Iran sebelum akhirnya mediator dari Oman menyampaikan bahwa terdapat kemajuan dan pembicaraan akan dilanjutkan pada pekan depan di Wina dalam level teknis. Ketidakpastian hasil negosiasi inilah yang membuat premi risiko geopolitik tetap melekat pada harga minyak global.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai peluang investasi dan trading komoditas energi global, kunjungi PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya. Anda juga dapat mencoba simulasi transaksi secara langsung melalui Demo Account Trading EWF guna memahami dinamika pasar dan pergerakan harga minyak secara real-time.
Kekhawatiran utama pasar tetap tertuju pada potensi gangguan distribusi energi di kawasan Timur Tengah, khususnya di Strait of Hormuz yang merupakan salah satu jalur terpenting perdagangan minyak dunia. Gangguan terhadap aktivitas pengiriman minyak di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi global dalam waktu singkat.
Selain faktor geopolitik, investor juga mulai mengantisipasi hasil pertemuan OPEC+ terkait kebijakan produksi minyak untuk April mendatang. Pasar saat ini memperkirakan OPEC+ kemungkinan akan menyetujui kenaikan produksi secara moderat. Namun demikian, sejumlah analis menilai potensi kelebihan pasokan global atau oversupply masih dapat membatasi kenaikan harga minyak dalam jangka menengah hingga akhir tahun ini.
Survei ekonom yang dikutip Reuters menunjukkan bahwa meskipun premi risiko geopolitik mampu menopang harga minyak dalam jangka pendek, pasar tetap harus menghadapi tantangan berupa perlambatan permintaan global dan meningkatnya suplai energi dunia. Karena itu, volatilitas harga minyak diperkirakan masih akan cukup tinggi selama beberapa bulan mendatang.
Ikuti update market, analisis trading, dan berita ekonomi terbaru melalui Instagram Equityworld Praxis Official serta jaringan sosial media resmi perusahaan di Linktree EWF Praxis. Informasi finansial dan perkembangan pasar global lainnya juga dapat Anda baca melalui Newsmaker.id.
