Harga perak turun ke sekitar US$80 per troy ounce pada perdagangan Selasa (17/3) dan masih bertahan dekat level terendah dalam satu bulan terakhir. Pergerakan ini terjadi ketika pelaku pasar terus menilai dampak konflik Timur Tengah terhadap inflasi global dan arah kebijakan moneter bank sentral utama dunia.
Ketegangan antara AS, Israel, dan Iran kini telah memasuki pekan ketiga dengan meningkatnya serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global yang dapat mempertahankan harga minyak di level tinggi lebih lama. Situasi ini membuat investor tetap berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar logam mulia.
Ikuti update market harian, analisa komoditas, dan edukasi trading terbaru melalui Instagram Equityworld Praxis serta akses seluruh sosial media resmi perusahaan di Linktree Equityworld Praxis.
Meski ketidakpastian geopolitik biasanya mendukung permintaan aset safe haven, kenaikan harga energi justru meningkatkan kekhawatiran inflasi. Jika tekanan energi terus bertahan, pasar memperkirakan bank sentral global kemungkinan akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang penguatan logam mulia seperti perak.
Investor saat ini memperkirakan Federal Reserve akan kembali mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Selain itu, European Central Bank, Bank of England, dan Bank of Japan juga diperkirakan belum melakukan perubahan kebijakan dalam waktu dekat. Fokus pasar kini tertuju pada bagaimana bank sentral menilai dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi global.
Walaupun mengalami tekanan dalam beberapa sesi terakhir, harga perak masih mencatat kenaikan sekitar 12% sejak awal tahun. Selain faktor safe haven, pasar juga masih melihat dukungan jangka panjang dari potensi defisit pasokan global pada 2026 serta tingginya permintaan industri, khususnya dari sektor elektronik dan teknologi.
Dalam jangka pendek, arah harga perak diperkirakan tetap sangat dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan dolar AS, serta ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga global. Selama ketidakpastian geopolitik dan inflasi energi masih tinggi, volatilitas pasar logam mulia diperkirakan akan tetap besar.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai layanan dan produk trading dari PT Equityworld Futures Praxis Surabaya, Anda juga dapat mencoba simulasi trading melalui Demo Account Equityworld Futures. Dapatkan pula berita ekonomi dan market update terbaru lainnya melalui Newsmaker Indonesia.
