Harga emas kembali melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Rabu (10/6) setelah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan melakukan serangan militer lanjutan memicu kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi global dapat berlangsung lebih lama, sehingga berpotensi mempertahankan tekanan inflasi dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat.
Untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai perkembangan pasar global, edukasi investasi, dan analisis perdagangan berjangka, kunjungi media sosial resmi PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya melalui https://linktr.ee/ewfprx atau ikuti akun Instagram resmi di https://www.instagram.com/equityworld_praxis.official untuk update harian seputar pasar keuangan.
Pada sesi perdagangan di New York, harga emas spot tercatat turun sekitar 3,2% ke level US$4.125,61 per ons, sekaligus menjadi posisi intraday terendah sejak Maret. Penurunan tersebut terjadi setelah meningkatnya kekhawatiran atas konflik di sekitar Selat Hormuz yang dinilai dapat memperpanjang ketidakpastian pasokan minyak dunia. Situasi ini membuat investor lebih fokus terhadap risiko inflasi dibandingkan fungsi emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah terjadinya aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan strategis tersebut. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa harga energi global akan tetap tinggi, sehingga dapat mendorong Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama. Lingkungan suku bunga tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil berupa bunga maupun dividen.
Bagi Anda yang ingin mempelajari peluang investasi di pasar berjangka, informasi mengenai produk dan layanan PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya dapat diakses melalui https://www.equityworld-futures.com/index.php/id/broker/surabaya-praxis. Anda juga dapat mencoba simulasi transaksi melalui akun demo gratis di https://demo.ew-futures.com/login sebagai sarana belajar sebelum memulai trading secara langsung.
Selain faktor geopolitik, data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan kenaikan terbesar dalam lebih dari tiga tahun turut memperkuat tekanan terhadap harga emas. Secara keseluruhan, harga emas kini diperdagangkan jauh di bawah level sebelum konflik Iran pecah pada akhir Februari, sementara logam mulia lain seperti perak dan platinum ikut melemah. Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan Timur Tengah serta arah kebijakan moneter global yang berpotensi menentukan pergerakan harga logam mulia ke depan. Informasi ekonomi dan berita pasar terbaru lainnya juga dapat diikuti melalui https://www.newsmaker.id.
