Harga perak masih bergerak di zona negatif pada perdagangan Rabu (10/6), dengan pasangan XAG/USD bertahan di kisaran US$65,1 hingga US$65,7 per ons setelah sempat menyentuh level intraday sekitar US$63,38 per ons. Pergerakan ini mencerminkan sikap hati-hati investor yang masih menghadapi kombinasi sentimen geopolitik, kenaikan harga energi, dan ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat.
Ikuti perkembangan pasar global, edukasi investasi, dan berbagai informasi perdagangan berjangka melalui media sosial resmi PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya di https://linktr.ee/ewfprx atau dapatkan update harian melalui Instagram resmi https://www.instagram.com/equityworld_praxis.official.
Tekanan terhadap harga perak semakin terasa setelah data inflasi Amerika Serikat bulan Mei menunjukkan kenaikan sesuai ekspektasi pasar. Indeks Harga Konsumen (CPI) tahunan tercatat naik menjadi 4,2%, sementara inflasi inti berada di 2,9%. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve kemungkinan masih akan mempertahankan sikap hati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter, terutama di tengah potensi kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi.
Dari sisi fundamental, konflik yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran turut meningkatkan risiko terganggunya pasokan energi global. Kenaikan harga minyak mendorong kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akan bertahan lebih lama, sehingga peluang suku bunga tinggi juga semakin besar. Situasi ini menjadi tantangan bagi logam mulia seperti perak yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga cenderung kurang diminati ketika tingkat bunga tetap tinggi.
Bagi Anda yang ingin mengenal lebih jauh layanan dan produk investasi dari PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya, silakan kunjungi https://www.equityworld-futures.com/index.php/id/broker/surabaya-praxis. Anda juga dapat mencoba simulasi transaksi melalui akun demo di https://demo.ew-futures.com/login untuk mempelajari fitur trading sebelum memasuki pasar yang sesungguhnya.
Ke depan, pergerakan harga perak diperkirakan masih dipengaruhi oleh perkembangan situasi di Timur Tengah, khususnya kondisi di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi energi dunia. Selain itu, arah harga minyak, kebijakan Federal Reserve, serta pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika akan menjadi faktor utama yang menentukan potensi pemulihan harga logam mulia. Untuk memperoleh berita ekonomi dan analisis pasar terbaru, kunjungi https://www.newsmaker.id sebagai sumber informasi finansial terkini.
