Rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah data pekerjaan AS menunjukkan angka yang jauh melampaui ekspektasi. Investor juga mengambil sikap wait and see terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan diumumkan hari ini.
Dilansir dari Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,41% di angka Rp15.720 per dolar AS, memutus tren penguatan selama enam hari berturut-turut. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 8.46 WIB menguat di angka 104,1, naik 0,18% dari penutupan perdagangan kemarin yang berada di angka 103,92.
Pelemahan nilai tukar rupiah ini dipicu oleh data yang dirilis Biro Ketenagakerjaan AS pekan lalu. Data pekerjaan di luar pertanian (nonfarm payroll/NFP) untuk Januari 2024 menunjukkan angka 353.000, jauh di atas ekspektasi yang memperkirakan penurunan ke 182.000 dari bulan sebelumnya yang sebesar 333.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran juga meleset dari perkiraan yang proyeksi bisa naik ke 3,8%, namun realisasinya tetap di 3,7% seperti bulan sebelumnya.
Ekonomi AS menunjukkan kekuatan yang signifikan memasuki 2024. Data pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal IV/2023 menunjukkan pertumbuhan 3,3%, jauh di atas konsensus sebesar 2%, serta tingkat inflasi masih berada di atas target bank sentral. Hal ini menyebabkan lonjakan DXY pada penutupan perdagangan Kamis dan Jumat pekan lalu, yang pada gilirannya memberikan tekanan pada mata uang lainnya termasuk rupiah.
Pada pekan ini, beberapa data ekonomi AS masih akan dirilis. Pada Senin (5/2/2024), data Purchasing Managers Index (PMI) Composite dan Service periode Januari 2024 akan diumumkan, yang kemungkinan besar masih menunjukkan level ekspansif.
Sementara itu, investor menantikan data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV-2023 dan full year 2023. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 14 institusi memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada Oktober-Desember 2023 atau kuartal IV mencapai 5,01% (year on year/yoy) dan tumbuh 0,42% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq). Sebagai catatan, ekonomi Indonesia tumbuh 4,94% (yoy) dan 1,60% (qtq) pada kuartal III-2023.
Dengan menghitung pertumbuhan ekonomi kuartal I-III pada 2023 dan proyeksi kuartal IV-2023, pertumbuhan ekonomi full year 2023 diperkirakan berada di angka 5,04%, lebih rendah dibandingkan 2022 yang sebesar 5,31%. Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup rendah, hal ini akan semakin menekan nilai tukar rupiah.
Keadaan ini menunjukkan betapa sensitifnya nilai tukar rupiah terhadap data ekonomi global, terutama dari AS, dan pentingnya stabilitas ekonomi dalam negeri untuk menjaga kekuatan mata uang Garuda.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
