Pada perdagangan Kamis (15/2/2024), bursa saham Asia-Pasifik dibuka dengan kompak menguat, setelah sebagian besar mengalami penurunan kemarin akibat data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari ekspektasi. Data tersebut memicu kekhawatiran bahwa bank sentral AS mungkin mempertahankan suku bunga lebih lama. Per pukul 08:10 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,71%, Straits Times Singapura bertambah 0,27%, ASX 200 Australia terapresiasi 0,66%, dan KOSPI Korea Selatan tumbuh 0,31%.
Pasar saham China belum dibuka karena masih libur dalam rangka Imlek dan akan kembali beroperasi pada Senin pekan depan.
Dari Jepang, data awal pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2023 menunjukkan bahwa perekonomian Jepang kembali mengalami kontraksi akibat tingginya inflasi yang menghambat permintaan domestik dan konsumsi swasta. Produk domestik bruto (PDB) sementara Jepang pada kuartal IV-2023 mengalami kontraksi 0,4% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2022, jauh di bawah perkiraan median survei pasar Reuters yang mencapai 1,4%. Secara kuartalan, PDB Jepang pada kuartal terakhir di 2023 juga berkontraksi 0,1%, sedikit lebih baik dari kuartal III-2023 yang berkontraksi 0,8%. Deflator PDB pada kuartal keempat mencapai 3,8% secara tahunan, sementara konsumsi swasta turun 0,2%.
Penurunan PDB selama dua kuartal beruntun ini membuat Jepang resmi terjerumus ke dalam resesi teknis, memperumit tuntutan normalisasi suku bunga bagi Gubernur Bank of Japan (BoJ), Kazuo Ueda, dan kebijakan fiskal bagi Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida.
Di sisi lain, penguatan bursa Asia-Pasifik juga terjadi di tengah rebound-nya bursa Amerika Serikat (AS) kemarin. Indeks Dow Jones Index (DJI) ditutup menguat 0,4%, S&P 500 melesat 0,96%, dan Nasdaq Composite berakhir melonjak 1,3%. Wall Street berakhir menguat tajam karena platform ride-hailing Lyft dan Uber menguat, sementara Nvidia menggantikan Alphabet sebagai perusahaan paling bernilai ketiga di pasar saham AS.
Uber melonjak hampir 15% ke rekor tertinggi, didorong oleh rencana pembelian kembali saham senilai USD 7 miliar. Sedangkan Lyft melonjak 35% setelah labanya melampaui perkiraan dan dikatakan akan menghasilkan arus kas bebas positif untuk pertama kalinya pada tahun 2024. Nvidia menyalip kapitalisasi pasar Alphabet menjelang hasil kuartalan pembuat chip AI yang dominan minggu depan, dengan nilai pasar saham mencapai USD 1,82 triliun (Rp 28.451 triliun, asumsi kurs Rp 15.590/USD) setelah sahamnya naik 2,5%.
Rebound Wall Street terjadi setelah penurunan pada Selasa lalu akibat inflasi AS yang berada di atas ekspektasi. Inflasi AS pada Januari 2024 menembus 3,1% (year-on-year/yoy), hanya melandai tipis dibandingkan Desember 2023 yang berada di angka 3,4%. Inflasi jauh di atas ekspektasi pasar yang memperkirakan 2,9%.
Inflasi AS yang masih panas membuat pelaku pasar semakin pesimis bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan segera memangkas suku bunga. Perangkat CME FedWatch Tool menunjukkan hanya 10,5% pelaku pasar memproyeksi The Fed akan memangkas suku bunga pada Maret mendatang, turun dari probablitas 70% tiga pekan lalu.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
