0 0
Read Time:1 Minute, 54 Second

Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini, dipicu oleh data ekonomi AS yang menunjukkan keadaan yang masih panas, serta sikap menunggu dari pelaku pasar terkait data neraca dagang Indonesia.

Menurut data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,29% menjadi Rp15.620 per dolar AS, mencatatkan posisi terlemah sejak 7 Maret 2024. Sementara itu, indeks DXY pada pukul 08:50 WIB menguat tipis menjadi 103,45, sedikit lebih tinggi dari penutupan perdagangan sebelumnya di 103,36.

Tekanan terhadap rupiah hari ini terutama berasal dari faktor eksternal, terutama setelah data inflasi produsen AS yang lebih tinggi dari perkiraan dan penurunan klaim pengangguran.

Data dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa Indeks Harga Produsen (PPI) naik 0,6% month to month pada Februari, melebihi perkiraan sebesar 0,3% yang diharapkan oleh para ekonom. Secara tahunan, kenaikan PPI mencapai 1,6% year on year, juga melampaui prediksi pasar sebesar 1,1% year on year.

Sementara itu, jumlah orang yang mengajukan klaim pengangguran di AS turun menjadi 209.000 pada pekan yang berakhir 9 Maret, menunjukkan perbaikan dibandingkan pekan sebelumnya yang mencatat 210.000 klaim. Hal ini berpotensi mempengaruhi keputusan The Fed terkait pemangkasan suku bunga di masa mendatang.

Di sisi lain, pelaku pasar saat ini tengah menantikan rilis data neraca dagang Indonesia yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Konsensus pasar memperkirakan surplus neraca perdagangan pada Februari 2024 akan mencapai US$ 2,05 miliar.

Proyeksi ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi lonjakan impor menjelang bulan Puasa atau Ramadhan, surplus neraca perdagangan diperkirakan akan tetap meningkat tipis dibandingkan dengan Januari 2024 yang mencatat US$ 2,02 miliar. Konsensus juga menunjukkan bahwa ekspor diproyeksikan mengalami kontraksi sebesar 7,08% year on year, sementara impor diperkirakan meningkat 10,27% year on year pada Februari 2024.

Sebagai informasi tambahan, nilai ekspor Januari 2024 mengalami koreksi sebesar 8,06% year on year dan turun 8,34% month to month menjadi US$ 20,52 miliar. Nilai impor Januari 2024 juga menurun sebesar 7,15% year on year dan jatuh 19,99% month to month menjadi US$ 18,51 miliar.

Jika data neraca dagang Indonesia pada Februari 2024 ternyata melampaui ekspektasi pasar, hal ini dapat memberikan dorongan positif untuk meredam tekanan terhadap mata uang rupiah.

Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf

About Post Author

IT Sby Praxis

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *