Pasar saham Jepang mengalami tekanan pada hari Senin dengan Indeks Nikkei turun hampir 1%, mencatat penurunan signifikan setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Menurut laporan dari Reuters pada pukul 02.07 GMT, Nikkei tercatat turun 0,97% menjadi 39.138,22, meskipun lebih baik dari kerugian awalnya yang mencapai 1,78%.
Dari 225 komponen Nikkei, mayoritas, yakni 181 komponen, mengalami penurunan, sementara hanya 44 komponen yang berhasil naik. Di sisi lain, Indeks Topix yang lebih luas juga merosot sebesar 0,37%.
Penurunan ini dipicu oleh saham-saham bank dan broker Jepang yang terpengaruh oleh laporan pendapatan yang mengecewakan dari perusahaan-perusahaan besar seperti JPMorgan Chase dan Wells Fargo di AS. Sektor chip lokal juga mengikuti tren negatif dari rekan-rekan mereka di Amerika Serikat.
Perusahaan peralatan pembuat chip, Tokyo Electron, mengalami penurunan terbesar dengan turun 1,32%, sementara saham pembuat mesin pengujian chip, Advantest, turun 2,19%.
Di sektor keuangan, Daiwa Securities mencatat kinerja terburuk dengan penurunan 1,82%, sementara perusahaan sekuritas secara keseluruhan termasuk dalam kelompok industri dengan penurunan terbesar di Bursa Efek Tokyo, turun 1,2%. Saham-saham perbankan juga turun sebesar 0,74%.
Selain itu, saham-saham produsen obat seperti Astellas dan operator department store Takashimaya masing-masing mengalami penurunan hampir 6%.
Kazuo Kamitani, strategist di Nomura Securities, menggambarkan suasana “risk-off” yang mendominasi pasar saham Jepang akibat meningkatnya ketegangan global. Namun, ia juga menyampaikan optimisme terkait potensi pemulihan pasar dengan memperhatikan pergerakan rata-rata 25 hari Nikkei yang menunjukkan potensi kenaikan.
“Meskipun hari ini mengalami penurunan, kita mungkin akan melihat perbaikan mulai besok. Saham-saham Jepang memiliki potensi untuk menguat,” kata Kamitani.
