Jeffrey Gundlach, Kepala Eksekutif Perusahaan Manajemen Investasi DoubleLine Capital, memperkirakan Amerika Serikat (AS) akan mengalami resesi ekonomi tahun ini. Gundlach, yang dikenal sebagai ‘raja obligasi’, menyebutkan bahwa tekanan akibat suku bunga tinggi telah mulai dirasakan oleh konsumen dan perusahaan di AS. Ia menilai sinyal-sinyal resesi, seperti meningkatnya tunggakan kartu kredit dan data penjualan ritel yang melemah, menunjukkan kemungkinan kontraksi ekonomi yang lebih cepat daripada rebound inflasi.
Peringatan Gundlach:
- Sinyal Resesi: Meningkatnya tunggakan kartu kredit dan penurunan penjualan ritel menunjukkan kemungkinan resesi.
- Risiko Kredit: Gundlach menghindari obligasi perusahaan dengan peringkat triple-C dan investasi kredit swasta, yang dianggap lebih berisiko jika ekonomi melambat tajam.
- Fokus pada Utang Pemerintah: DoubleLine Capital sangat terekspos terhadap utang pemerintah AS. Gundlach mengklaim bahwa membeli Treasury dengan kupon rendah mengurangi risiko restrukturisasi utang.
Paul Dietrich, Kepala Strategi Investasi B. Riley Wealth Management, juga memberikan peringatan serupa awal Mei. Dietrich, seorang pakar Wall Street yang dikenal karena ramalannya tentang resesi 2008, mengidentifikasi beberapa tanda-tanda resesi:
- Inflasi dan Volatilitas: Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dan volatilitas di pasar.
- Pertumbuhan Ekonomi Melambat: Pertumbuhan PDB turun menjadi 1,6% pada kuartal pertama 2024, dari 3,4% pada kuartal terakhir 2023.
- Penurunan Kepercayaan Konsumen: Kepercayaan konsumen jatuh dan pertumbuhan lapangan kerja melambat.
Tanda-Tanda Resesi:
- Imbal Hasil Obligasi: Imbal hasil obligasi pemerintah AS hampir empat kali lipat imbal hasil dividen S&P 500, menunjukkan ekspektasi suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu lama.
- Perbandingan Sejarah: Imbal hasil Treasury saat ini merupakan yang tertinggi sejak 2001 dan merupakan kedua kalinya dalam 100 tahun terakhir imbal hasil mencapai angka tersebut.
Dietrich’s Viewpoint:
- Resesi Tertunda: Stimulus besar-besaran selama pandemi mungkin telah menunda resesi, namun perekonomian tetap berada di jalur penurunan.
- Dampak Belanja Defisit: Belanja defisit yang tidak berkelanjutan bisa mempengaruhi lapangan kerja, perekonomian, dan pasar saham global secara negatif.
Kedua analis ini mengungkapkan kekhawatiran mendalam mengenai prospek ekonomi AS, dengan Gundlach fokus pada risiko utang dan Dietrich menyoroti indikasi penurunan ekonomi yang mendalam.
