Harga emas menguat tipis di awal sesi Asia pada hari Kamis dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu minggu, sekitar $2.346 per troy ons pada pukul 09.00 WIB. Kenaikan ini didorong oleh data ekonomi AS yang menunjukkan tanda-tanda meredanya tekanan inflasi dan melambatnya ekonomi, memicu spekulasi bahwa Federal Reserve (Fed) akan memangkas suku bunga dua kali tahun ini. Ekspektasi ini menekan Dolar AS (USD) mendekati level terendah mingguan, memberikan dorongan utama bagi kenaikan harga emas.
Data Ekonomi AS dan Harapan Penurunan Suku Bunga
Data Penjualan Ritel AS yang dirilis pada hari Selasa mengindikasikan aktivitas ekonomi yang lesu. Bersama dengan data harga konsumen dan produsen AS yang lebih lemah, ini memperkuat argumen bahwa Fed mungkin akan melonggarkan kebijakan moneternya segera. Saat ini, pasar menunjukkan peluang yang lebih besar untuk pemotongan suku bunga pertama pada bulan September, dengan kemungkinan pemotongan tambahan pada bulan November atau Desember. Harapan ini memberikan sentimen positif bagi emas.
Ketegangan Geopolitik dan Ketidakpastian Politik di Eropa
Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik dan ketidakpastian politik yang baru di Eropa juga memberikan dukungan tambahan bagi emas sebagai aset safe-haven. Dengan meningkatnya ketidakpastian global, investor cenderung mencari perlindungan dalam aset yang dianggap lebih aman seperti emas.
Sikap Hawkish Fed dan Spekulasi Pasar
Meskipun Fed minggu lalu mengadopsi sikap yang lebih hawkish, para pembuat kebijakan tetap berargumen mendukung setidaknya satu kali pemotongan suku bunga pada tahun 2024. Sikap ini telah memberikan kontribusi pada pelemahan Dolar AS dan mendukung kenaikan harga emas.
Secara keseluruhan, kombinasi dari data ekonomi yang lesu, ekspektasi penurunan suku bunga, dan ketidakpastian geopolitik membuat emas tetap menjadi pilihan menarik bagi investor yang mencari aset safe-haven.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
