Bursa Asia Anjlok, Nikkei 225 Terkapar di Tengah Kekhawatiran Resesi Global
Pada Jumat pagi, 2 Agustus 2024, bursa saham Asia mengalami penurunan tajam, dipimpin oleh kejatuhan indeks Nikkei 225 yang anjlok sebesar 5,02% ke level 36.212,39 pada pukul 08.21 WIB. Indeks Hang Seng di Hong Kong juga melemah 1,62% ke 17.025,26, sementara indeks Taiex di Taiwan turun 2,91% menjadi 21.982,97. Bursa saham di Korea Selatan dan Australia turut merosot, dengan indeks Kospi turun 2,58% ke 2.706,09 dan indeks S&P/ASX 200 di Australia merosot 2,14% ke 7.940,9.
Bursa saham Jepang menjadi pusat perhatian dengan penurunan tajam Nikkei 225, yang mencatat penurunan signifikan pada pembukaan dan melanjutkan pelemahan 2,62% dari hari sebelumnya. Penurunan ini membawa Nikkei 225 ke level terendah sejak Februari, dengan sejumlah saham perusahaan terkemuka seperti Softbank Group yang anjlok 6,7%, serta saham Mitsui dan Marubeni yang masing-masing turun lebih dari 9% dan 7%.
Pelemahan ini terjadi di tengah penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang, di mana imbal hasil obligasi tenor 10 tahun jatuh di bawah angka 1%, menyentuh level terendah sejak Juni 2024.
Pasar Asia juga tertekan oleh data inflasi Korea Selatan untuk bulan Juli, yang menunjukkan angka tahunan sebesar 2,6%, sedikit lebih tinggi dari perkiraan 2,5% oleh para ekonom yang disurvei oleh Reuters. Data ini menambah tekanan di tengah kekhawatiran akan prospek ekonomi global.
Sentimen negatif di pasar Asia dipicu oleh aksi jual besar-besaran di Wall Street pada sesi perdagangan hari Kamis. Ketiga indeks utama AS mengalami penurunan tajam akibat meningkatnya kekhawatiran resesi. Dow Jones Industrial Average turun 1,21%, S&P 500 anjlok 1,37%, dan Nasdaq Composite yang sarat teknologi merosot 2,3%. Bahkan indeks Russell 2000, yang mencerminkan saham berkapitalisasi kecil, ikut terpuruk dengan penurunan sebesar 3%.
Di Amerika Serikat, data ekonomi terbaru memperburuk kekhawatiran akan kemungkinan resesi, di mana klaim pengangguran awal mengalami lonjakan tertinggi sejak Agustus 2023. Selain itu, indeks manufaktur ISM, yang merupakan barometer aktivitas pabrik di AS, turun ke 46,8%, lebih buruk dari ekspektasi dan mengindikasikan kontraksi ekonomi.
Penurunan ini juga mendorong imbal hasil Treasury 10 tahun turun di bawah 4% untuk pertama kalinya sejak Februari 2024, menambah tekanan pada pasar global. Dalam situasi ini, pelaku pasar Asia kini terus memantau perkembangan di Wall Street dan data ekonomi global lainnya untuk mengantisipasi langkah-langkah kebijakan moneter yang mungkin diambil oleh Federal Reserve dalam menghadapi ancaman resesi.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
