4 November 2024 โ Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (1/11) ditutup terkoreksi sebesar 0,91%, berakhir di level 6.960,93. Penurunan IHSG ini juga diiringi dengan aksi jual bersih (net sell) asing yang tercatat sebesar Rp616 miliar, memperburuk kinerja pasar saham domestik. Saham-saham yang paling banyak dijual oleh investor asing adalah Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Telkom Indonesia (TLKM), Bank Mandiri (BMRI), Map Aktif Adiperkasa (MAPI), dan Kalbe Farma (KLBF).
Meski IHSG tertekan, pasar saham Amerika Serikat justru mencatatkan rebound pada hari yang sama. Indeks Dow Jones menguat 0,69% ke level 42.052, sedangkan S&P 500 naik 0,41% ke posisi 5.728,80. Indeks Nasdaq Composite juga mengalami kenaikan sebesar 0,8% menjadi 18.239,92. Penguatan ini didorong oleh lonjakan saham Amazon yang melesat 6,2% setelah melaporkan hasil yang lebih baik dari ekspektasi di sektor bisnis cloud dan iklan. Intel juga mencatatkan penguatan 7,8% setelah melaporkan pendapatan yang lebih baik dari perkiraan serta memberikan panduan yang optimis untuk kuartal mendatang.
Namun, pasar masih dipengaruhi oleh data ketenagakerjaan AS yang dirilis pada Jumat, yang menunjukkan angka jauh di bawah perkiraan. Pada bulan Oktober, hanya tercatat penambahan 12 ribu pekerjaan, jauh dari perkiraan 100 ribu. Angka ini menjadi yang terlemah sejak Desember 2020. Meskipun demikian, tingkat pengangguran di AS tetap stabil di level 4,1%, sesuai dengan ekspektasi pasar. Penurunan ini menambah kekhawatiran investor menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) AS pada 5 November mendatang, yang diperkirakan dapat meningkatkan volatilitas pasar. Selain itu, pertemuan kebijakan The Fed pada 6-7 November juga menjadi fokus pasar.
Sementara itu, di Asia, sebagian besar bursa saham mengalami penurunan pada Jumat. Indeks Nikkei 225 Jepang turun tajam 2,6%, sementara indeks Topix melemah 1,9%. Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan acuannya di 0,25% pada Kamis (31/10), yang memberikan sentimen negatif terhadap pasar saham Jepang. Di Korea Selatan, indeks Kospi turun 0,5%, sementara indeks Kosdaq jatuh lebih dalam, yakni 1,9%. Namun, pasar saham Hong Kong mencatatkan penguatan, dengan indeks Hang Seng naik 0,93%.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 0,50%, sedangkan pasar saham Singapura, Straits Times, melemah 0,10%. Di Malaysia, FTSE Bursa Malaysia KLCI sedikit menguat sebesar 0,13%. Di Indonesia, selain tekanan aksi jual asing, IHSG juga dipengaruhi oleh faktor global yang membuat investor semakin berhati-hati.
Dalam data domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa inflasi Indonesia pada Oktober 2024 tercatat sebesar 1,71% secara tahunan (YoY), mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,08% secara bulanan (MoM) pada Oktober, menunjukkan adanya stabilitas harga di pasar domestik.
Secara keseluruhan, meskipun Wall Street menunjukkan perbaikan, ketidakpastian politik di AS, serta data ketenagakerjaan yang kurang menggembirakan, memberikan tekanan pada pasar saham global dan domestik. Dengan volatilitas pasar yang tinggi, investor diperkirakan akan tetap cermat dan menunggu arah kebijakan moneter The Fed dan perkembangan politik di AS yang dapat memengaruhi keputusan investasi ke depan.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
