Harga emas (XAU/USD) pulih dari penurunan ke sekitar $2.690 selama jam perdagangan Asia pada hari Jumat (13/12), setelah mengalami penurunan tajam dari level tertinggi lima minggu pada sesi sebelumnya. Meskipun ada aksi ambil untung yang mendorong harga turun, fokus pasar kini beralih ke pertemuan kebijakan suku bunga Federal Reserve AS (Fed) yang dijadwalkan minggu depan, yang dapat memberikan arahan baru untuk pergerakan harga emas ke depannya.
Dukungan bagi harga emas datang dari pembelian yang dilakukan oleh bank sentral, termasuk Bank Rakyat Tiongkok (PBOC), yang melanjutkan akuisisi emas pada bulan November setelah enam bulan jeda. PBOC meningkatkan cadangannya menjadi 72,96 juta troy ons, yang menjadi indikasi bahwa bank sentral besar dunia terus berupaya mendiversifikasi cadangan mereka. Keputusan ini bertepatan dengan kebijakan moneter Tiongkok yang mulai mengarah ke pendekatan yang lebih longgar, dengan rencana untuk memperkenalkan kebijakan fiskal yang lebih proaktif pada tahun 2024. Analis Goldman Sachs mencatat bahwa PBOC kemungkinan akan meningkatkan permintaan emas lebih lanjut, terutama dalam kondisi pelemahan mata uang lokal, sebagai upaya untuk meningkatkan kepercayaan terhadap mata uang mereka dan menjaga stabilitas ekonomi.
Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama yang terkait dengan konflik Israel-Palestina, juga dapat meningkatkan permintaan untuk aset safe haven seperti emas. Menurut laporan Reuters, serangan Israel di Jalur Gaza menewaskan sedikitnya 30 warga Palestina dan melukai puluhan lainnya, sehingga memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah sangat tegang. Kenaikan ketegangan ini menambah ketidakpastian global, yang cenderung mendukung permintaan terhadap emas sebagai pelindung nilai.
Namun, ada juga faktor negatif yang dapat membatasi kenaikan harga emas. Spekulasi mengenai kebijakan tarif yang diusung oleh Presiden terpilih AS, Donald Trump, dapat mendorong inflasi, yang mungkin membuat Federal Reserve lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga lebih lanjut. Hal ini, pada gilirannya, bisa menjadi hambatan bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas. Meski demikian, para pedagang saat ini memperkirakan dengan peluang hampir 96,4% bahwa Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan bulan Desember, yang memberi gambaran bahwa pasar masih mengharapkan kebijakan moneter yang lebih longgar.
Secara keseluruhan, meskipun ada beberapa faktor yang menghalangi, harga emas tetap mendapatkan dukungan dari ketidakpastian geopolitik, pembelian bank sentral, dan ekspektasi penurunan suku bunga, yang terus menjaga daya tarik logam mulia ini sebagai aset safe haven.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
