JAKARTA โ Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 2 Januari 2025, dengan penurunan sebesar 66 poin, bergerak ke level Rp16.198 per dolar AS. Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Rabu (1/1/2025), rupiah berada di level Rp16.132 per dolar AS.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan bahwa pergerakan rupiah pada perdagangan esok hari (3 Januari 2025) akan cenderung fluktuatif, meskipun diperkirakan akan ditutup melemah di kisaran Rp16.180 hingga Rp16.270 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, beberapa faktor eksternal menjadi penyebab utama pelemahan rupiah, di antaranya kebijakan perdagangan Presiden AS terpilih, Donald Trump, yang berencana mengenakan tarif tambahan terhadap China. Proyeksi bahwa kebijakan tersebut dapat memicu ketegangan perdagangan global di tahun 2025 setelah Trump dilantik sebagai presiden, menjadi salah satu faktor penguat dolar AS.
Selain itu, pertemuan Federal Reserve (The Fed) pada bulan Desember lalu yang mengindikasikan pemotongan suku bunga yang lebih sedikit pada tahun 2025, karena inflasi tetap menjadi perhatian utama, turut memberi dampak pada tekanan terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah.
Dalam perkembangan lain, Ibrahim juga mencatat adanya ketegangan politik yang terjadi di Korea Selatan, yang memperburuk sentimen investor di pasar Asia. Krisis politik yang dipicu oleh keputusan darurat militer Presiden Yoon Suk Yeol, yang kemudian diikuti oleh pemakzulan terhadapnya, memberi tekanan tambahan pada mata uang Asia.
Namun, di dalam negeri, ada kabar positif mengenai sektor manufaktur Indonesia. Indeks Pembelian Manajer (PMI) manufaktur Indonesia kembali menunjukkan ekspansi setelah lima bulan berturut-turut berada di zona kontraksi. Laporan terbaru dari S&P Global pada Kamis (2/1/2025) menunjukkan bahwa PMI Indonesia menguat ke level 51,2 pada Desember 2024, dari sebelumnya terkontraksi di level 49,6 pada November 2024. Angka ini merupakan level tertinggi sejak Mei 2024.
Peningkatan PMI tersebut didorong oleh kenaikan volume produksi dan permintaan baru yang menguat baik di dalam negeri maupun pasar ekspor. Ibrahim optimistis tren positif ini akan berlanjut, seiring dengan stabilitas kondisi makro ekonomi Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengumumkan bahwa inflasi Indonesia pada Desember 2024 tercatat sebesar 0,44% secara bulanan dan 1,57% secara tahunan (year-on-year). Dengan angka inflasi yang terbilang rendah tersebut, Ibrahim mencatat bahwa inflasi pada tahun 2024 merupakan yang terendah dalam sejarah Indonesia, bahkan lebih rendah dari inflasi pada 2020 yang tercatat sebesar 1,68%.
Meskipun sektor manufaktur Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan, Ibrahim memperingatkan bahwa ketidakpastian global dan kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh pemerintahan Trump di AS akan terus memberikan tantangan bagi stabilitas rupiah di awal tahun 2025.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
