Ahli strategi dari UBS memperkirakan bahwa dolar AS akan terus menguat dalam waktu dekat, seiring dengan solidnya aktivitas ekonomi AS dan kekhawatiran mengenai dampak tarif terhadap wilayah lain. US Dollar Index (DXY) telah melonjak ke level tertinggi sejak November 2022, diperdagangkan di atas 110, dengan apresiasi sekitar 9% sejak akhir September.
Penguatan dolar AS didorong oleh data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan, termasuk laporan nonfarm payrolls dan indeks manajer pembelian sektor jasa yang positif. Hal ini mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve, sehingga mendorong kenaikan imbal hasil AS dan memberikan dukungan pada dolar.
Sementara itu, prospek ekonomi Eropa kurang optimis, dengan pertumbuhan yang diperkirakan lemah. Ancaman tarif AS yang berkelanjutan dan ketidakpastian politik di berbagai negara juga berisiko melemahkan mata uang-mata uang regional seperti euro, won Korea Selatan, dan pound sterling Inggris.
UBS menyoroti potensi divergensi kebijakan moneter sebagai faktor kunci pendorong penguatan dolar. The Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin pada kuartal kedua dan ketiga 2025, sementara Bank Sentral Eropa diproyeksikan akan menurunkan suku bunga sebesar 100 basis poin pada paruh pertama tahun ini. Dengan divergensi kebijakan tersebut, UBS memprediksi dolar AS berpotensi menguat lebih lanjut dalam waktu dekat.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
