JAKARTA โ Pasar saham Asia sebagian besar mengalami penurunan pada hari Jumat (31/1/2025), setelah China melaporkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5% pada tahun lalu. Angka ini sesuai dengan target pemerintah, namun mengalami pelambatan dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun ada peningkatan dalam ekspor dan kebijakan untuk mendorong pengeluaran konsumen, para ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi China akan melambat lebih lanjut pada tahun ini.
Indeks saham di Asia pun tertekan, dengan indeks Hang Seng di Hong Kong dan Shanghai Composite di China masing-masing turun 0,1%. Sementara itu, indeks Nikkei 225 di Tokyo kehilangan 1%, menunjukkan dampak dari data ekonomi China yang memengaruhi sentimen pasar regional.
Di sisi lain, harga minyak sedikit naik, memberikan sedikit angin segar di pasar komoditas, sementara dolar AS menguat terhadap yen Jepang, mencerminkan dampak kondisi ekonomi global terhadap mata uang.
Di Amerika Serikat, bursa saham juga mengalami penurunan setelah laporan pendapatan yang bervariasi dari beberapa perusahaan besar. Meskipun ada laporan positif terkait inflasi, beberapa indikator ekonomi lainnya menunjukkan adanya tanda-tanda perlambatan. Penjualan ritel di AS tidak mencapai ekspektasi yang diharapkan, dan lebih banyak pekerja yang mengajukan tunjangan pengangguran. Hal ini menambah kekhawatiran bahwa meskipun ekonomi AS tidak memasuki resesi, kemungkinan adanya pelambatan pertumbuhan yang dapat mempengaruhi kebijakan suku bunga Federal Reserve di masa depan.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
