Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengungkapkan bahwa nilai tukar rupiah masih rentan mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini. Kekhawatiran datang dari kebijakan ekonomi yang diprakarsai oleh Presiden AS, Donald Trump, terutama terkait dengan kenaikan tarif perdagangan yang dapat memicu inflasi di AS.
“Kebijakan kenaikan tarif yang digagas Trump dikhawatirkan akan memicu inflasi yang lebih tinggi di AS, sehingga The Fed (Federal Reserve) mungkin akan membatasi pemangkasan suku bunga acuannya,” ujar Ariston dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta, Jumat, 7 Februari 2025.
Trump baru-baru ini mengumumkan penundaan kebijakan tarif perdagangan terhadap Kanada dan Meksiko selama 30 hari, meskipun kebijakan tersebut tetap berlaku setelah periode penundaan tersebut berakhir. Selain itu, Trump juga berencana untuk memberlakukan tarif impor terhadap negara-negara Uni Eropa (EU) dengan alasan blok Eropa telah memperlakukan AS dengan buruk, terutama dalam hal defisit perdagangan dan pajak yang dianggap merugikan ekonomi AS.
Lebih lanjut, AS telah menerapkan tarif 10 persen untuk semua barang yang diimpor dari Tiongkok, yang semakin memperburuk hubungan perdagangan antara kedua negara besar tersebut. Ariston menilai kebijakan-kebijakan kontroversial ini dapat menambah ketidakpastian ekonomi global, mendorong investor untuk mencari aset aman seperti dolar AS dan emas.
“Ketidakpastian ini bisa memicu goncangan pada perekonomian global, sehingga akan mendorong pelaku pasar untuk mencari aset aman seperti dolar AS dan emas,” kata Ariston.
Pada perdagangan hari ini, rupiah tercatat berpotensi melemah ke level Rp16.400 per dolar AS, dengan level support berada di sekitar Rp16.280 per dolar AS. Meskipun demikian, nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis pada hari Jumat, dengan pergerakan naik 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.334 per dolar AS, dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang tercatat di Rp16.341 per dolar AS.
Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf
