0 0
Read Time:1 Minute, 5 Second

Harga minyak turun hampir 2% pada Selasa (28/10), memperpanjang penurunan ke hari ketiga berturut-turut. Investor menilai dampak sanksi baru Amerika Serikat terhadap dua raksasa energi Rusia—Lukoil dan Rosneft—serta kemungkinan OPEC+ menaikkan produksi.

Pada pukul 12.53 GMT, Brent kontrak Desember turun 1,7% ke $64,53 per barel, sementara WTI melemah 1,8% ke $60,24 per barel. ANZ mencatat, pelaku pasar kini menimbang “progres pembicaraan dagang AS–Tiongkok dan prospek suplai global secara keseluruhan.”

Sanksi Washington terhadap Moskow pekan lalu sempat memicu reli harga, tapi kini pasar menilai ulang seberapa besar dampaknya terhadap ekspor minyak Rusia. Analis UBS Giovanni Staunovo menilai, “premi risiko suplai mulai berkurang karena pasar belum melihat gangguan nyata.”

IEA menyebut dampak sanksi mungkin terbatas karena masih ada kapasitas cadangan di produsen utama. Sementara Lukoil mengumumkan rencana menjual aset internasionalnya—langkah besar pertama sejak sanksi Barat diberlakukan. Kilang-kilang India juga menunda pemesanan baru minyak Rusia sambil menunggu kejelasan lebih lanjut.

Dari sisi pasokan, empat sumber Reuters menyebut OPEC+ tengah mempertimbangkan kenaikan produksi kecil sekitar Desember, melanjutkan tren pembalikan pemangkasan sejak April lalu.

Pasar kini menantikan pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada Kamis di Korea Selatan. Hasilnya bisa menjadi penentu arah harga minyak selanjutnya.
Ikuti analisis komoditas harian di EWF Private Praxis Surabaya.

About Post Author

IT Sby Praxis

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *